Pemutaran Film Dokumenter Pesta Babi di Cirebon Soroti Kerusakan Alam dan Isu Kemanusiaan Papua
Diskusi publik dalam rangka nonton bareng film dokumenter "Pesta Babi" di Pondok Pesantren Al-Fatih di Jalan Kayuwalang, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jumat 29 Mei 2026 malam. -Mohamad Junaedi-RADARCIREBON.COM
CIREBON, RADARCIREBON.COM – Pondok Pesantren Al-Fatih di Jalan Kayuwalang, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota CIREBON, menggelar pemutaran film dokumenter bertajuk “Pesta Babi”, Jumat, 29 Mei 2026 malam.
Kegiatan tersebut terselenggara atas kolaborasi antara Mahasiswa Ahli Thoriqoh Al Mu’tabaroh An-Nahdiyah (MATAN) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bersama Pondok Pesantren Al-Fatih.
Acara tidak hanya menghadirkan pemutaran film, tetapi juga diskusi publik yang membahas isu lingkungan, kemanusiaan, hingga pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
BACA JUGA:Longsor Terjang Kuningan, Rumah Warga Rusak dan Jalan Lingkungan Amblas
Diskusi publik menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya public policy analyst Edi Suripno, budayawan Dedi Kampleng, serta Pembina MATAN UIN Siber Syekh Nurjati dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fatih, Kiai Munib Khumaedi.
Dalam sambutannya, Kiai Munib Khumaedi menegaskan, kerusakan alam yang terjadi saat ini tidak lepas dari ulah manusia. Menurutnya, kondisi tersebut telah diperingatkan dalam Al-Qur’an.
“Kerusakan di muka bumi ini terjadi karena tangan manusia sendiri. Ini sudah menjadi peringatan Allah SWT dalam Al-Qur’an,” ujarnya di hadapan peserta diskusi.
Kemudian, Ketua Umum MATAN UIN Siber Syekh Nurjati, Muhammad Rifki Rizkon, mengatakan pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” bertujuan membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan merawat alam.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang refleksi sekaligus edukasi bagi masyarakat agar lebih peduli terhadap dampak pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan ekologi.
BACA JUGA:BMKG Ungkap Ancaman El Nino 2026, Jawa hingga NTT Berpotensi Kekeringan
Usai menyaksikan film dokumenter terasnut, Edi Suripno menilai persoalan yang terjadi di Papua sebenarnya juga terjadi di berbagai wilayah lain di Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa.
Menurutnya, sejumlah kebijakan pemerintah kerap dipaksakan tanpa kajian ekologis yang matang dan tanpa mempertimbangkan kearifan lokal masyarakat setempat.
Akibatnya, kerusakan alam semakin meluas dan warga lokal harus kehilangan ruang hidupnya.
“Pendekatan militeristik dalam pembangunan food estate justru menimbulkan trauma bagi masyarakat lokal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: reportase

