Daya Motor

GUDREG

GUDREG

-Freepik-

Oleh: Fathan Mubarak

Penyair, tinggal di Cirebon

DON Quixote pernah percaya bahwa dirinya kesatria besar. Dengan menunggang kuda kurus bernama Rocinante, ia membawa tombak tua lalu bergegas melawan dunia. Yang kita dapati berikutnya adalah semacam arketipe dalam psikologi Jungian: ia menyerbu kincir angin, memerangi kawanan domba, juga membebaskan para penjahat dari tahanan karena menganggapnya korban ketidakadilan. Sebuah arketipe tak mengenal musim dan cuaca. Dalam kepala Don Quixote sendiri hanya hidup satu gagasan lama:  kehormatan harus dipertahankan melalui pertarungan, dan seorang lelaki baru berarti jika tampak gagah sendirian.

Don Quixote hanya melihat dunia dalam kepalanya. Kenyataan perlahan menghilang di balik fantasi tentang kehormatan, keberanian, dan kemenangan heroik yang terus ia pelihara. Karya sastra dua jilid berbahasa Spanyol ini ditulis Miguel de Cervantes sebagai satire atas manusia yang gagal memahami zaman. Sejak pertama terbit pada 1605, Don Quixote seperti pengingat bahwa manusia sering lebih mencintai ilusi tentang dirinya sendiri daripada kenyataan yang sedang berubah di depannya. Don Quixote tetap mengenakan baju zirah tua ketika dunia sudah bergerak ke arah yang berbeda. Kenyataan dipaksa tunduk pada fantasi kepahlawanan yang ia ciptakan.

BACA JUGA:Pameran Seni di GCM Cirebon Ajang Kolaborasi Lintas Generasi, Dorong Kebangkitan Ekonomi Kreatif

Sesekali Cirebon serupa itu. Hidup dalam bayang-bayang model kepahlawanan lama itu. Kota ini pun terus melahirkan orang-orang yang merasa harus tampil paling depan, paling menentukan, paling layak didengar. Ada semacam keyakinan kuno bahwa pengaruh harus terlihat keras, dominan, dan penuh pertunjukan. Perang modern, kita tahu, bahkan tidak lagi dimenangkan oleh jenderal yang berdiri gagah di atas kuda. Peradaban bergerak melalui jaringan, kolaborasi, data, dan kemampuan membangun kepercayaan.

Teknologi yang kita gunakan setiap hari lahir dari ribuan orang yang bekerja bersama dengan lintas disiplin dan lintas negara. Musik dibuat melalui kolaborasi. Film, riset, bisnis, bahkan gerakan sosial modern tumbuh dari kemampuan banyak orang untuk bekerja sama. Tidak ada lagi zaman pendekar solo yang merasa bisa menyelesaikan semuanya sendiri sambil berjalan dramatis dengan ujung rambut yang berayun-ayun diterpa angin. Kota-kota kuat pun tidak lahir dari satu orang yang marah-marah sendirian sambil berkata, “Sirae sapa? Sira ngerti apa?”

Psikolog Alfred Adler menyebutnya striving for superiority. Semacam dorongan untuk merasa unggul, merasa memiliki posisi lebih tinggi dibanding yang lain. Manusia, dalam pandangan Adler, selalu menyimpan kecemasan menjadi kecil dan tak berarti. Pengakuan pun dicari lewat banyak hal termasuk konflik. Tidak sepenuhnya keliru. Tapi ada saat kebutuhan untuk “berarti” berubah menjadi kebutuhan untuk terus menang dan mendominasi. Hingga manusia perlahan mulai hidup di dalam teater egonya sendiri.

Model kepahlawanan lama memang memabukkan—juga butuh lawan. Sebab heroisme tidak bisa diciptakan di ruang hampa sendirian. Ia senantiasa membutuhkan keributan demi keributan bersama pihak lain yang disebut lawan. Dalam psikologi politik, kebutuhan semacam ini sering berubah menjadi narcissism of small differences—istilah Sigmund Freud untuk menggambarkan bagaimana kelompok-kelompok yang sebenarnya mirip justru gemar membesar-besarkan perbedaan kecil demi mempertahankan identitas dan superioritasnya.

BACA JUGA:Pesta Adat Seren Taun Cigugur Dimulai, Ribuan Pelita Terangi Paseban Tri Panca Tunggal

Cirebon sudah terlalu tua untuk terus mempertengkarkan itu semua. Kota ini bahkan pernah menjadi simpul perdagangan dunia. Pernah menyaksikan berbagai bangsa datang membawa peti-peti niaga, agama, bahasa, bahkan wabah dan peperangan. Kapal-kapal pernah datang dan hilang di cakrawala. Laut di depannya telah pula berkali-kali berubah warna. Dari arah dermaga, angin utara pernah membawa doa, senjata, rempah-rempah, juga obsesi yang tak kunjung usai. Namun kota ini berhasil bertahan di tengah percampuran, ditengah persilangan yang rumit dan edan.

Cirebon memang tak perlu menjadi kota para kesatria. Sebuah kota lebih membutuhkan warganya yang senantiasa belajar tumbuh bersama. Zaman telah bergerak terlalu jauh untuk terus memelihara romantisme tentang orang-orang yang berdiri sendirian sambil menghunus ego ke udara. Ide saling mengalahkan perlu diganti dengan kecerdasan untuk saling menguatkan. Dan mungkin kedewasaan sebuah peradaban memang dimulai dari sana: ketika manusia mulai bertanya apa yang bisa dikerjakan bersama sebelum sejarah diam-diam meninggalkan mereka semua.

Don Quixote sebenarnya tidak sedang melawan dunia. Ia hanya melawan kenyataan bahwa dunia tak lagi membutuhkan model kepahlawanan yang ia yakini. Karena itu ia terus menciptakan lawan. Kincir angin dianggap raksasa. Kawanan domba dibayangkan pasukan perang. Losmen terlihat seperti benteng istana. Ia juga mengubah benda-benda menjadi properti medan kurusetra agar hidupnya terasa agung dan digdaya. Satire Miguel de Cervantes begitu kena: orang sering merasa telah memakai akalnya, padahal diam-diam digerakkan oleh luka, emosi, dan fantasi yang bersembunyi di alam bawah sadarnya sendiri.

Pada 1978, dalam pidato terkenalnya di Toronto, Perdana Menteri Kanada Pierre Trudeau menyebut multikulturalisme sebagai kebijakan resmi negara. Gagasannya sederhana tetapi radikal: masyarakat modern tidak mungkin dibangun dengan memaksa semua orang menjadi sama. Beberapa dekade kemudian, dengan tentu saja disertai banyak perdebatan, ide serupa berkembang luas di Amerika Utara dan Eropa. Dunia perlahan menginsyafi kenyataan bahwa masyarakat majemuk tidak bisa terus hidup dengan mentalitas saling menaklukkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait