Daya Motor

GUDREG II

GUDREG II

Ilustrasi-Freepik-

Sastra dan filsafat Eropa sebenarnya memiliki bayangan tentang hikikomori bahkan sebelum istilah itu ada. Di Petersburg yang dingin, Underground Man ciptaan Fyodor Dostoevsky bersembunyi dari dunia. Ia sinis, terasing, penuh kebencian pada masyarakat sekaligus pada dirinya sendiri. Ada juga Gregor Samsa karya Franz Kafka yang suatu pagi bangun sebagai serangga raksasa. Ini menjadi salah satu metafora paling brutal tentang keterasingan modern. Manusia tiba pada keadaan merasa tak lagi dikenali. Tubuhnya eksis, tetapi keberadaannya seperti kesalahan administrasi kosmik.

Eropa modern punya banyak figur kesepian seperti itu dengan rupa yang berganti-ganti. Pada suatu masa, orang-orang di sana kerap menyendiri di kamar loteng sambil menulis surat atau membaca filsafat. Hari ini mereka berada di apartemen kecil Berlin, Paris, atau Milan, hidup bersama laptop, gawai, gim daring, media sosial, dan kecemasan yang kompleks. Pada akhirnya pandemi COVID-19 dianggap sebagai normalisasi hikikomori. Lockdown membuat pola hidup terisolasi dianggap wajar. Dan dunia mendadak ikut masuk kamar.

Namun hikikomori bukan satu-satunya yang kita dapat dari modernitas. Pembacaan sosiolog cum pengacara David Riesman terhadap perubahan psikologi masyarakat modern pasca Perang Dunia II, terutama di Amerika, justru menemukan kebalikannya. Manusia tak lagi bersembunyi di kamar sempit, melainkan justru di tengah keramaian. Mereka menuju apa yang oleh Riesman sebut sebagai other-directed man—hidup dengan radar sosial terus menyala dan sibuk memastikan dirinya tetap relevan dengan kerumunan.

Orang terus berbicara agar tak perlu mendengar kehampaan batin. Terus membuat kegaduhan agar hidup terasa penting dan signifikan. Di kota-kota kecil di Indonesia, kita mengenalinya dari wajah yang selalu tegang seakan revolusi terjadi esok pagi, selalu ingin terdengar paling keras dan menantang. Seperti ada amarah kecil yang dipelihara layaknya sebuah pusaka. Mungkin ini yang dimaksud Guy Debord sebagai masyarakat tontonan: orang lebih sibuk mempertontonkan hidup daripada sungguh-sungguh menjalaninya.

Menariknya, sebagian manusia modern menggabungkan keduanya sekaligus. Mereka terasing tetapi haus penonton. Rapuh tetapi ingin tampak superior. Falsafah Jawa menyimpan peringatan terhadap keadaan itu. Zaman edan Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha menggambarkan suatu masa ketika kegaduhan, keserakahan, dan kebingungan moral berjalan beriringan. Orang dipaksa terus menyesuaikan diri agar tidak tersingkir dari keramaian. Lalu sesuatu yang menyerupai mitigasi moral kita dapati dari gugon tuwon Cirebon: aja gumunan, aja kagetan, aja dumeh.

Tentu saja karena Cirebon mengenal kesunyian semacam itu. Sebagai kosmopolitanisme lama, atau paling tidak liminal budaya, kota-kota pesisir selalu menyimpan paradoks modernitas. Pelabuhan mempertemukan banyak bangsa sekaligus mengajarkan bahwa semua kedatangan pada akhirnya adalah sementara. Kapal-kapal bersandar, orang-orang datang membawa nama besar, lalu semua menghilang jua ditelan zaman. Mungkin karena itu manusia pesisir sering tampak gudreg. Mereka tumbuh bersama cuaca yang tak menentu, sejarah ekspansi dan perebutan, juga naluri bertahan hidup yang keras. 

Sangat mungkin jika gudreg hanyalah bentuk hikikomori yang memakai toa. Orang terus membuat konflik-konflik agar tak perlu mendengar satu hal yang paling sulit dihadapi: dirinya sendiri. Maka, di malam hari, ketika kota mulai terlelap dan trafik media sosial mulai landai, orang yang siang kita dapati begitu gudreg mendadak menjadi sangat religius. Semua kecemasan dan ketakutan, tanpa harus mendiskusikan catatan-catatan para sosiolog seperti Durkheim atau antropolog Ernest Becker, mendadak diungsikan pada Tuhan. 

Barangkali karena itu Cirebon memerlukan bentuk gudreg yang lain: pertengkaran yang diskursif dan kreatif. Sebuah kota tidak berkembang dari kebencian kecil yang terus-menerus dipelihara seperti warisan keluarga. Dialektika berlandaskan pikiran-pikiran dan imajinasi harus dimulai. Boleh jadi kita akan berbeda pandangan, berbeda selera estetika, bahkan berbeda kepentingan politik. Tetapi sebuah kota hanya bisa tetap hidup jika orang-orang di dalamnya masih mampu bertengkar tanpa kehilangan kejernihan dan rasa hormat terhadap gagasan-gagasan. Atau kota ini akan berakhir tanpa memiliki daya cipta dan kemampuan menakar masa depan. Wong Cerbon kampung menyebutnya kumprung!

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: