Cirebon Bangga! Sinta Ridwan Sah Jadi Doktor di UI, Sidang Promosi Disertai Pameran Paleografi Sumatra
Sidang Promosi Doktor Sinta Ridwan di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok.-Foto: Dok. Pribadi-radarcirebon.com
RADARCIREBON.COM – Sinta Ridwan resmi menyandang gelar doktor Ilmu Pengetahuan Budaya di Universitas Indonesia (UI).
Arkeolog - filolog yang lahir dan besar di Cirebon itu, berhasil mempertahankan disertasi Paleografi Sumatra: Pelokalan Aksara Kuna Prasasti Melayu Kuna (Abad ke-7 sampai ke-14 Masehi).
Menjadi promotor disertasi Prof Dr Agus Aris Munandar SS MHum dan kopromotor Prof Manneke Budiman SS MA PhD.
Selain sidang promosi doktor, bersamaan juga dilaksanakan Pameran Aksara Kuna Prasasti Sumatra sekaligus menautkan tradisi tulis masa lampau dengan keadaan Sumatera hari ini.
BACA JUGA:Viral Perubahan Nama Jawa Barat Jadi Tatar Sunda, Simak Penjelasan Lengkap Ono Surono
Pameran bertajuk “Dalam Pekat, Aksara Bersuara” dibuka untuk umum di lingkungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Kampus UI Depok.
Pameran ini diselenggarakan perempuan asal Cirebon yang bersumber pada disertasinya tentang pelokalan aksara kuna prasasti Melayu Kuna di Sumatra.
Pameran ini hadir untuk memperkenalkan Sumatra sebagai salah satu pusat kebudayaan dan literasi di Asia Tenggara di masa lampau melalui prasasti dan artefak yang menyimpan informasi mengenai bahasa, jejaring kekuasaan, seni, dan adaptasi lokal.
Selain itu, pameran juga menyampaikan kritik yang berbasis pada data atas peristiwa banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara pada November 2025 akibat kerusakan lingkungan, melalui pembacaan kembali prasasti Sumatra dan relevansinya secara ekologis.
BACA JUGA:Rencana Perubahan Nama Jawa Barat jadi Tatar Sunda, Singgung Keberadaan Badak Jawa
Pameran disusun dalam sebelas perhentian, dari pengantar sampai meja makan. Pengunjung diajak melihat peta jaringan prasasti Sumatra, membaca prasasti Kota Kapur pada sepuluh bidang kaca, menelusuri pohon aksara yang menjuntaikan tabel bentuk huruf, mencermati abklats (cetakan prasasti pada kertas), menimbang kekayaan arca dan candi Sumatra, serta menapaki perjalanan kurator menekuni aksara kuna.
Salah satu yang ingin ditonjolkan pameran ini adalah wujud nenek moyang bahasa Indonesia. Bahasa Melayu Kuna pada prasasti Sumatra merupakan leluhur langsung bahasa Indonesia, dan banyak kata yang masih hidup sampai hari ini.
Kata wulan pada prasasti Kedukan Bukit dari 682 Masehi menjadi bulan, kata wuluh pada Talang Tuwo menjadi buluh, sedangkan kata urang menjadi orang dan kata dengan bertahan hampir tanpa perubahan.
Kemudian, penggunaan partikel yang, dengan, juga imbuhan di. Pengunjung dapat melihat sendiri bentuk tertua kata-kata yang mereka ucapkan setiap hari, terpahat pada batu seribu tahun lampau.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

