Memperbanyak Doa dan Sedekah di Rabu Terakhir Bulan Sapar: Ritual Sakral Rebo Wekasan di Pendopo Jinem
Kesultanan Kanoman Cirebon menggelar ritual sakral Rebo Wekasan pada Rabu terakhir di bulan Sapar, Rabu (12/8/2026).-Ade Gustiana-Radar Cirebon
CIREBON, RADARCIREBON.COM – Kesultanan Kanoman Cirebon menggelar ritual sakral Rebo Wekasan pada Rabu terakhir di bulan Sapar, Rabu (12/8/2026). Dengan restu penuh dari Sultan Kanoman XII Cirebon, KGA Sultan Mochammad Saladin, seluruh prosesi utama dipusatkan di Pendopo Jinem Keraton Kanoman.
Riuh antusiasme masyarakat membahana di kawasan keraton sejak Subuh. Ribuan warga dari berbagai daerah memadati lokasi untuk menyaksikan jajaran keluarga keraton merilis tradisi tahunan ini. Ritual Rebo Wekasan diisi dengan pemanjatan doa keselamatan bersama di area Pendopo Jinem hingga penyebaran koin sedekah atau tradisi saweran.
Rebo Wekasan berlandaskan pada pemaknaan kultural spiritual masyarakat Cirebon terkait bulan Sapar. Dalam kepercayaan tradisi lokal yang diwariskan turun-temurun, bulan Sapar dipandang sebagai periode diturunkannya berbagai ujian serta cobaan. Menghadapi hal tersebut, pihak Kesultanan Kanoman memelopori gerakan pemanjatan doa dan pemasyarakatan sedekah massal sebagai bentuk ikhtiar spiritual.
Patih Kesultanan Kanoman Cirebon, Pangeran Mochammad Amaludin menegaskan esensi utama Rebo Wekasan terletak pada peningkatan kualitas ibadah dan kepedulian sosial.
BACA JUGA: Gempa Besar M 7,7 Guncang Flores: Peringatan Tsunami Berakhir, Ancaman Longsor Mengintai
“Intinya, kita bersedekah sebagai bentuk tolak bala, agar selama satu tahun kita dijauhkan dari marabahaya, dari kecelakaan, persoalan-persoalan hidup, dan lain sebagainya,” ungkap Pangeran Amaludin, Jumat (14/8/2026).
Hal yang paling dinanti oleh warga adalah tradisi melempar atau menyawerkan koin. Dari pelataran Pendopo Jinem, keluarga keraton menuangkan pecahan uang logam ke arah masyarakat. Tradisi ini disimbolkan sebagai wujud fisik dari rasa bersyukur sekaligus kewajiban berbagi kepada sesama. Selain itu, warga juga mengantre dengan tertib membawa wadah untuk mendapatkan pembagian air dari sumur-sumur kuno keraton yang telah didoakan oleh para ulama dan pinisepuh.
Kehadiran ribuan warga dalam ritual di Pendopo Jinem ini mempertegas fungsi keraton yang terus konsisten menjaga spiritualitas masyarakat. Pangeran Amaludin menambahkan bahwa partisipasi lintas elemen ini menjadi bukti sejarah ikatan batin yang tak terputus.
“Diikuti oleh berbagai macam lapisan masyarakat yang hadir. Dan ini menunjukkan bahwa emosional antara keraton dan masyarakatnya masih terjalin selama ratusan tahun lamanya sampai sekarang,” tutupnya. (ade)
BACA JUGA: Resmi Dibuka. TRIKARSA Fest 2026 Targetkan Business Matching hingga Rp100 Miliar
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

