Muludan di Pengguron Pegajahan Cirebon, Lantunan Mijil Hayataan Jadi Warisan Tradisi yang Terus Dijaga
Suasana khidmat dan kebersamaan mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pengguron Tharekat Agama Islam Pegajahan Cirebon.-Cecep Nacepi-radarcirebon
CIREBON, RADARCIREBON.COM — Suasana khidmat dan kebersamaan mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pengguron Tharekat Agama Islam Pegajahan Cirebon. Tradisi keagamaan yang digelar di Ruang Utama Pengguron Pegajahan itu sekaligus menjadi ruang untuk merawat warisan budaya dan mempererat silaturahmi.
Kegiatan tersebut diikuti jamaah Pengguron Pegajahan, keluarga besar Kesultanan Cirebon, khususnya Kesultanan Kanoman dan Kacirebonan, Pengguron Kaprabonan, serta masyarakat sekitar.
Salah satu rangkaian yang menjadi perhatian dalam peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini, adalah lantunan Mijil Hayataan. Tradisi religius yang telah menjadi bagian dari khazanah masyarakat Cirebon itu dilantunkan dalam suasana penuh kekhusyukan sebagai ekspresi penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW sekaligus wujud kecintaan kepada Rasulullah.
Bagi Pengguron Pegajahan, keberadaan Mijil Hayataan bukan sekadar pelengkap dalam kegiatan muludan. Tradisi tersebut dipandang sebagai bagian dari identitas masyarakat Cirebon yang mempertemukan nilai-nilai Islam dengan kebudayaan dan warisan leluhur.
BACA JUGA:8 Tanaman Hias Depan Rumah yang Mudah Dirawat dan Tahan Cuaca, Punya Tampilan Menarik Cocok untuk Dekorasi
Pengasuh Pengguron Pegajahan Cirebon, Elang Bagoes Candra Kusuma Ningrat, putra Rama Guru Pangeran Muhammad Nurbuwat Purbaningrat, mengatakan peringatan Maulid Nabi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda tahunan.
“Muludan ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi momentum bagi kita untuk kembali mengingat sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW, mengenal perjuangan beliau, serta menanamkan kecintaan kepada Rasulullah kepada keluarga, jamaah dan generasi muda,” ujar Sang Pangeran Elang Bagoes Candra Kusuma Ningrat.
Menurutnya, pelestarian tradisi lokal perlu dilakukan dengan memberikan pemahaman mengenai nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, generasi muda tidak berhenti pada pengenalan bentuk tradisi, tetapi juga memahami pesan keagamaan yang diwariskan melalui tradisi tersebut.
“lantunan Mijil Hayataan adalah bagian dari kekayaan tradisi yang harus kita jaga. Tradisi ini jangan hanya dilihat sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus dipahami nilai dan pesan keagamaannya. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya mengetahui bentuk tradisinya, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya,” katanya.
BACA JUGA:Family Gathering AEROX Bandung, Rayakan 7 Tahun Kebersamaan Komunitas AEROK Jawa Barat
Selain menjadi sarana memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, kegiatan muludan di Pengguron Pegajahan juga menjadi ajang mempertemukan jamaah, keluarga besar kesultanan dan masyarakat sekitar. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa tradisi muludan masih memiliki peran dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Cirebon.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada dasarnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang kelahiran Rasulullah sekaligus meneladani perjalanan hidup dan perjuangannya.
Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Makkah pada tahun yang secara tradisional dikenal sebagai Tahun Gajah, sekitar 570 Masehi. Pada usia 40 tahun, beliau menerima wahyu pertama dan kemudian menjalankan tugas menyampaikan risalah Islam.
Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah SAW menghadapi berbagai penolakan dan tantangan. Namun, beliau tetap menunjukkan kesabaran, kasih sayang, keadilan, keteladanan dan akhlak mulia.
BACA JUGA:Kaya Vitamin dan Antioksidan, Ini Alasan Daun Kelor Baik untuk Kesehatan Mata
Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam peringatan Maulid Nabi. Karena itu, muludan tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan untuk mengingat hari kelahiran Rasulullah, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan menerapkan keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di Cirebon, peringatan Maulid Nabi memiliki warna tersendiri karena beriringan dengan tradisi masyarakat yang telah diwariskan lintas generasi. Akulturasi antara nilai keislaman, kebudayaan lokal dan tradisi leluhur membuat muludan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Cirebon.
Pengguron Pegajahan berupaya mempertahankan ruang tersebut agar tradisi tetap hidup sekaligus relevan bagi generasi penerus. “Yang paling penting adalah bagaimana tradisi ini tetap memiliki ruh. Kita berkumpul, bershalawat, mengenang Rasulullah dan menjaga silaturahmi. Nilai-nilai itulah yang harus terus diwariskan kepada anak-anak dan generasi penerus,” tutur Elang Bagoes
Ia berharap pelaksanaan Maulid Nabi di Pengguron Pegajahan dapat terus berlangsung secara berkesinambungan. Pelestarian tradisi, menurutnya, tetap dapat berjalan seiring perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai kebaikan yang diwariskan para pendahulu.
BACA JUGA:Jangan Sampai STNK Terblokir, Ini Cara Cek Tilang ETLE Motor Lewat HP
“Semoga setiap pelaksanaan muludan membawa keberkahan, memperkuat persaudaraan dan menjadi pengingat bagi kita semua untuk semakin mencintai serta meneladani Rasulullah SAW. Tradisi boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi nilai kebaikan dan pesan yang diwariskan para leluhur harus tetap kita jaga,” pungkasnya. (cep)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

