Banjir di Palutungan Viral, Aktivis Soroti Ancaman Kerusakan Ekologis di Lereng Gunung Ciremai
Banjir di Palutungan Kuningan viral di media sosial.-Istimewa-Radarcirebon.com
RADARCIREBON.COM – Banjir Palutungan Kuningan yang viral di media sosial dalam beberapa hari terakhir memunculkan kekhawatiran serius terhadap kondisi lingkungan di kawasan lereng Gunung Ciremai.
Derasnya aliran air yang meluap hingga menerjang ruas jalan wisata Palutungan–Cigugur dinilai bukan sekadar dampak hujan deras biasa, melainkan menjadi alarm terhadap menurunnya daya dukung ekologis di kawasan hulu.
Peristiwa tersebut menarik perhatian masyarakat karena aliran air yang cukup deras melintasi badan jalan di kawasan wisata unggulan Kabupaten Kuningan itu dianggap tidak lazim.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi kerusakan lingkungan yang lebih besar jika tidak segera ditangani.
BACA JUGA:Hari Kebangkitan Nasional 2026, Sekda Kota Cirebon Soroti Kedaulatan Digital dan Perlindungan Anak
Aktivis Masyarakat Peduli Kuningan, Yudi Setiadi, menilai fenomena Banjir Palutungan Kuningan harus dibaca sebagai sinyal ancaman ekologis yang tidak boleh diabaikan oleh pemerintah daerah maupun pengelola kawasan konservasi.
Menurut Yudi, pemerintah bersama instansi terkait perlu segera melakukan langkah mitigasi dan kajian mendalam terhadap kondisi lingkungan di kawasan kaki Gunung Ciremai.
Ia menilai derasnya aliran air dari kawasan hulu hingga meluap ke badan jalan menunjukkan adanya indikasi penurunan kemampuan tanah dalam menyerap air.
Gunung Ciremai selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan resapan air utama yang menopang kebutuhan air di wilayah Ciayumajakuning.
BACA JUGA:Heboh 41 Sapi Pemkab Cirebon Gagal Terjual, DPRD Sebut Salah Perencanaan
BACA JUGA:DPC PPP Kabupaten Cirebon Gelar Rapat Muscab, Siap Perkuat Struktur dan Kaderisasi
Namun, tekanan terhadap lingkungan disebut terus meningkat, diperparah oleh anomali cuaca yang memicu curah hujan ekstrem dan pergantian musim yang tidak menentu.
“Aliran air yang begitu deras hingga melintasi jalan menjadi alarm bahwa daya serap tanah mulai menurun. Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

