Karhutla Gunung Ciremai 2026 Hanguskan 14,9 Hektare, Area Reboisasi Ikut Terancam
Karhutla Ciremai ancam reboisasi. Hampir 15 hektare hutan Gunung Ciremai terbakar, ribuan tanaman konservasi terancam, petugas berjibaku 5 jam.-Istimewa -Radarcirebon.com
RADARCIREBON.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Insiden yang melanda Blok Cirendang, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, menjadi peristiwa kebakaran hutan pertama di kawasan Gunung Ciremai sepanjang tahun 2026.
Kobaran api berhasil dikendalikan setelah petugas gabungan Balai TNGC berjibaku selama hampir lima jam di medan yang cukup sulit.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kebakaran ini menghanguskan sekitar 14,9 hektare lahan dan mengancam kawasan penghijauan yang selama ini menjadi bagian dari program rehabilitasi hutan.
BACA JUGA:Pengamat Politik Dukung Komjen Pol Karyoto Kandidat Kapolri, Berpengalaman dan Punya Visi Kebangsaan
Asap pertama kali terlihat saat empat petugas Balai TNGC sedang melakukan patroli rutin di kawasan Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Batu Luhur.
Laporan tersebut kemudian diperkuat informasi dari masyarakat serta perangkat Desa Padabeunghar yang diterima melalui layanan call center TNGC.
Empat petugas patroli, yakni Iyon K, Agus Sumarna, Andis NH, dan Dede Rosade, segera melakukan pengecekan ke lokasi.
Setelah memastikan titik api berada di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, tepatnya di Blok Cirendang, laporan langsung diteruskan ke Posko Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) SPTN Wilayah I Kuningan di Desa Singkup.
BACA JUGA:Aksi Curanmor di Kuningan Berakhir Dramatis, Pelaku Ditangkap Warga, Rekannya Kabur
Tak berselang lama, tim gabungan bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.
Sementara itu, personel lain mengoordinasikan penanganan bersama berbagai unsur, baik dari internal Balai TNGC maupun instansi terkait.
Kepala Balai TNGC, Toni Anwar, mengungkapkan proses pemadaman tidak berjalan mudah.
Api dengan cepat menjalar akibat kondisi vegetasi yang didominasi semak belukar kering serta diperparah oleh tiupan angin yang cukup kencang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

