Kisah Nyata di Balik Program MBG: Pekerjaan, Gaji, dan Martabat yang Kembali
Kisah nyata pekerja MBG yang hidupnya berubah. Dari menganggur kini punya gaji, pekerjaan tetap, dan harapan baru lewat program Makan Bergizi Gratis.-Seno Dwi Prianto-Radar Cirebon
MBG: Ekosistem Kerja yang Nyata
Kisah Kassandra dan Yosep hanyalah dua potret kecil dari dapur MBG Kesambi Baru. Di balik program makan gratis, MBG ternyata menciptakan ekosistem kerja yang hidup hampir 24 jam.
Ada juru masak, ahli gizi, tim distribusi, pencuci wadah, koordinator, hingga sopir dan kenek. Semua digerakkan oleh pekerja dan relawan lokal. Upahnya mungkin bukan yang tertinggi, tapi stabil, teratur, dan pasti.
Dari Kabupaten Kuningan, cerita serupa datang dari Afif Maulana. Pria asal Desa Cengal, Kecamatan Japara, itu dipercaya menjadi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Kramatmulya.
Afif mengaku memperoleh penghasilan hingga Rp6 juta per bulan, di luar tunjangan kesehatan. Angka yang jauh di atas UMK setempat.
“Alhamdulillah, sangat cukup untuk kebutuhan saya yang masih lajang,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan skema upah relawan SPPG. Relawan biasa menerima Rp100 ribu per hari, juru masak Rp120 ribu, sopir Rp110 ribu, kenek Rp100 ribu, dan satpam Rp100 ribu per hari.
Sebelum dipercaya menjabat, Afif menjalani seleksi dan pelatihan selama tiga bulan di Bandung bersama calon kepala SPPG lainnya.
“Program MBG bukan cuma soal makan gratis. Ini soal kerja, soal penghasilan, soal hidup,” tandasnya.
Di balik panci dan food tray, MBG telah mengubah arah hidup banyak orang. Dari dapur sederhana, harapan itu kini dimasak setiap hari. (ade/gus)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

