Daya Motor

Wafatnya KH Adib Rofiuddin Izza, Gus Yahya: Saya Seperti Kehilangan Orang Tua Sendiri

Wafatnya KH Adib Rofiuddin Izza, Gus Yahya: Saya Seperti Kehilangan Orang Tua Sendiri

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, sedang memanjatkan doa untuk almarhum KH KH Adib Rofiuddin Izza yang wafat pada Senin 1 Juni 2026 sekitar pukul 09.00 WIB, di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta.-@yahyacholilstaquf-Instagram

CIREBON, RADARCIREBON.COM – Wafatnya sesepuh Buntet Pesantren CIREBON, KH Adib Rofiuddin Izza, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), para santri, serta sejumlah tokoh nasional.

Sosok ulama kharismatik yang dikenal sederhana dan penuh dedikasi itu dikenang sebagai figur yang mengabdikan hidupnya untuk umat dan organisasi.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menjadi salah satu tokoh yang menyampaikan ungkapan belasungkawa mendalam atas wafatnya KH Adib Rofiuddin Izza.

BACA JUGA:Suasana Jelang Pemakaman KH Adib Rofiuddin Izza, Kapolda hingga Tokoh Nasional Berdatangan

Melalui pesan yang disampaikannya, Gus Yahya mengaku memiliki hubungan yang sangat dekat dengan almarhum. Bahkan, ia menyebut KH Adib sebagai sosok yang telah dianggap seperti orang tua sendiri.

“Saya mengenal Kiai Adib sudah seperti orang tua saya sendiri. Beliau dan keluarga besar Buntet memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarga kami di Leteh,” ungkap Gus Yahya.

Menurutnya, kedekatan antara keluarga besar Buntet Pesantren dan keluarganya telah terjalin sejak lama, bahkan sejak masa para pendahulu mereka.

Hubungan tersebut berakar dari persahabatan antara KH Bisri Mustofa dan KH Abbas Buntet yang telah terbangun sejak era perjuangan kemerdekaan Indonesia.

BACA JUGA:Prabowo Tegaskan Pancasila Jadi Sandaran Bangsa Indonesia Hadapi Ketidakpastian Global

Gus Yahya mengisahkan, salah satu momen bersejarah yang menjadi simbol eratnya hubungan tersebut terjadi saat peristiwa Pertempuran 10 November di Surabaya.

Kala itu, KH Abbas Buntet sempat singgah di Leteh, yang kemudian menjadi awal terjalinnya hubungan kekeluargaan yang terus terjaga hingga saat ini.

Kedekatan tersebut membuat kunjungan terakhir Gus Yahya ke kediaman KH Adib di Buntet Pesantren pada awal Mei lalu terasa seperti pulang ke rumah sendiri.

“Ketika terakhir kali sowan ke Buntet, saya merasa seperti pulang ke rumah,” tuturnya.

Gus Yahya juga menilai KH Adib sebagai figur ulama yang mewakafkan hidupnya untuk jam’iyah dan jamaah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: reportase

Berita Terkait