Dua Ruas Tol di Jawa Disiapkan untuk Pendaratan Darurat Jet Tempur TNI, Ini Daftarnya
Pesawat tempur TNI AU terbang di langit Cirebon.-Dedi Haryadi-radarcirebon.com
JAKARTA, RADARCIREBON.COM – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai menyiapkan dua ruas jalan tol strategis di Pulau Jawa yang akan difungsikan sebagai landasan pendaratan darurat bagi jet tempur Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Langkah ini menjadi bagian dari penguatan infrastruktur nasional agar dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pertahanan negara dalam kondisi darurat.
Rencana tersebut merupakan tindak lanjut setelah suksesnya uji coba pendaratan dan lepas landas pesawat tempur F-16 TNI Angkatan Udara (AU) di Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Ruas Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung (Terpeka).
BACA JUGA:Ledakan Gudang Amunisi TNI AD di Madiun, 1 Prajurit Gugur dan 6 Terluka, Penyebab Masih Diselidiki
Keberhasilan simulasi itu mendorong Kementerian Pertahanan untuk memperluas konsep serupa ke sejumlah ruas jalan tol lainnya.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, mengatakan Kementerian Pertahanan kembali mengajukan permintaan uji coba pendaratan jet tempur di beberapa ruas jalan tol strategis, baik di Pulau Sumatera maupun Pulau Jawa.
Menurutnya, salah satu ruas yang tengah dipersiapkan berada di Tol Sigli–Banda Aceh. Sementara di Pulau Jawa, pemerintah menyiapkan Tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi (Prosiwangi) serta Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan sebagai lokasi uji coba berikutnya.
"Setelah keberhasilan uji coba sebelumnya, kami sedang mempersiapkan beberapa ruas jalan tol lain yang dinilai memenuhi persyaratan untuk dijadikan landasan pendaratan darurat pesawat tempur," ujar Dody di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan, tidak semua ruas jalan tol dapat dialihfungsikan sebagai landasan pesawat tempur. Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan utama adalah keberadaan overpass, jembatan penyeberangan, serta kondisi geometrik jalan yang harus memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Selain itu, panjang lintasan, lebar badan jalan, kondisi permukaan aspal, hingga area bebas hambatan di sekitar jalan menjadi aspek teknis yang harus dipenuhi sebelum sebuah ruas tol dapat digunakan sebagai lokasi pendaratan darurat.
BACA JUGA:Walikota Cirebon Ikuti Rakor Nasional di Mabes TNI AD, Inilah Hasilnya
Dody menambahkan, keberhasilan uji coba di ruas-ruas tersebut nantinya juga dapat menjadi nilai tambah dalam peningkatan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) jalan tol.
Artinya, selain berfungsi sebagai infrastruktur transportasi, jalan tol juga memiliki kesiapan untuk mendukung kebutuhan strategis nasional apabila sewaktu-waktu diperlukan.
"Ada beberapa ruas jalan tol yang memang diamanatkan agar bisa dimanfaatkan sebagai lokasi pendaratan jet tempur apabila terjadi kondisi darurat," katanya.
Konsep pemanfaatan jalan tol sebagai landasan pesawat militer bukanlah hal baru di sejumlah negara. Beberapa negara telah mengembangkan desain jalan raya yang dapat digunakan sebagai runway alternatif ketika pangkalan udara tidak dapat beroperasi akibat kondisi tertentu.
Indonesia mulai mengembangkan konsep tersebut sebagai bagian dari strategi meningkatkan kesiapan infrastruktur pertahanan mengingat wilayah negara yang sangat luas dan terdiri atas ribuan pulau.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur ke depan harus mengedepankan prinsip multifungsi.
BACA JUGA:TNI AD Kembangkan Teknologi Pengolahan Sampah Modern, Pemprov Jabar Sambut Positif
Menurut AHY, keberhasilan uji coba pendaratan dan lepas landas jet tempur F-16 di Jalan Tol Trans Sumatera menjadi bukti bahwa infrastruktur jalan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem pertahanan nasional.
Ia menilai Indonesia sebagai negara kepulauan memerlukan infrastruktur yang mampu memberikan manfaat lebih luas, termasuk mendukung mobilitas militer dalam situasi darurat maupun operasi tertentu.
Karena itu, perencanaan pembangunan infrastruktur sejak tahap awal harus mempertimbangkan berbagai kemungkinan pemanfaatan di masa depan.
Dengan konsep multifungsi tersebut, jalan tol tidak hanya meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat kesiapan nasional dalam menghadapi berbagai kondisi darurat, termasuk kebutuhan operasi pertahanan.
Pemerintah berharap sinergi antara Kementerian PU, Kementerian Pertahanan, TNI, serta pemangku kepentingan lainnya dapat memastikan setiap ruas jalan tol yang dipilih memenuhi standar keselamatan dan operasional.
Jika seluruh tahapan uji coba berjalan sesuai rencana, Indonesia akan memiliki lebih banyak infrastruktur strategis yang mampu mendukung sektor transportasi sekaligus pertahanan negara secara optimal. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: reportase

