Gempa Megathrust Bukan Omong Kosong, Belum Bisa Diprediksi Kapan Terjadi, Pahami Tabiatnya
Peta gempa bumi di Indonesia. -bmkg-
RADARCIREBON.COM - Ancaman gempa besar (megathrust) yang terjadi di Indonesia bukan omong kosong. Ancaman itu nyata adanya. Hanya saja, tidak bisa diprediksi kapan terjadi.
Yang paling penting bagi masyarakat Indonesia bisa memahami tabiat gempa besar tersebut. Baik itu guncangan dahsyatnya maupun bencana ikutannya.
Penegasan tersebut disampaikan oleh mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dr Daryono SSi MSi, baru-baru ini.
Menurutnya, megathrust M8,7–8,9 merupakan skenario atau potensi magnitudo maksimum dari sumber gempa.
BACA JUGA:Nakhoda Kapal Virgo Transport 8 Harus Bertanggung Jawab, 2 Peristiwa Ini Bisa Jadi Rujukan
Yang perlu dipahami, jelas dia, bukan prediksi bahwa gempa sebesar itu akan segera terjadi.
“Sebagai seorang saintis, saya meyakini bahwa gempa besar merupakan keniscayaan proses alam,” ungkap pria kelahiran Semarang ini.
Mengapa demikian? Menurut dia alasannya karena sumber gempanya memang ada. Juga aktivitas tektoniknya berlangsung, dan sejarah kegempaannya tercatat.
“Namun, kapan tepatnya gempa besar itu akan terjadi, hanya Tuhan yang tahu,” ujar peraih gelar Doktor Geografi UGM ini.
BACA JUGA:Inilah Kisah dan Pesan Letkol Untung, Salah Satu Sosok di Balik Peristiwa Kelam 30 September
Hingga saat ini, tandas dia, ilmu pengetahuan dan teknologi belum mampu memprediksi soal gempa besar itu. Terutama secara akurat waktu, lokasi, dan magnitudo yang akan terjadi.
Baginya, yang terpenting bukan mempertanyakan kapan gempa akan terjadi. Yang terpenting justru seberapa siap ketika gempa itu terjadi.
“Potensi bukan untuk ditakuti, tetapi menjadi dasar untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan,” jelas Daryono.
Sebelumnya dia juga menjelaskan soal memahami tabiat gempa. Sebab, pada setiap peristiwa gempa kuat, ancaman tidak hanya berasal dari guncangan langsung. Ancaman juga datang dari berbagai bencana ikutan atau secondary hazards.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
