Hati-hati Super Flu Bukan Flu Biasa, Kenali Sebab dan Bagaimana Pencegahannya
Super flu bukan flu biasa. Kenali gejala Influenza A H3N2 Subclade K, kelompok rentan, serta cara mencegah penularan dan risiko komplikasinya.-@benzoix -Freepik
RADARCIREBON.COM – Belakangan kunjungan pasien di sejumlah rumah sakit telah meningkat tanjam. Sebagian besar dari para pasien karena menderita penyakit flu.
Sejumlah pihak memperingatkan terhadap kondisi tersebut. Yang ditakutkan, para pasien itu bukan menderita flu biasa, melainkan super flu.
Untuk diketahui, sekarang virus Influenza A (H3N2) Subclade K telah terdeteksi di 13 provinsi di Indonesia. Bahkan kasusnya pun mengalami peningkatan.
Mulanya banyak yang mengira ini cuma flu ringan biasa. Padahal infeksi ini bisa berkembang menjadi kondisi serius seperti pneumonia hingga gagal nafas.
BACA JUGA:Komisi III DPR Aklamasi Setujui Komjen Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri
BACA JUGA:Presiden Prabowo Usulkan Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto Jadi Kapolri
Sebaiknya lebih waspada! Kenali tanda bahayanya. Setidaknya terapkan langkah pencegahan sederhana, mulai dr rajin cuci tangan, pakai masker, hingga menjaga sirkulasi udara di rumah.
Seperti ramai diberitakan, kunjungan pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) meningkat di sejumlah rumah sakit. Termasuk di rumah sakit yang ada di Jawa Barat.
Kunjungan pasien itu meningkat lantaran naiknya kasus Influenza A yang sering disebut dengan istilah "super flu".
Sejumlah sumber menyebut, super flu bukanlah nama diagnosis medis resmi atau virus baru. Super flu merupakan istilah populer untuk varian virus flu.
BACA JUGA:Jangan Asal Pasang! Knalpot Free Flow atau Standar, Mana yang Cocok untuk Motor Harian?
Gejala klinisnya mirip dengan influenza biasa. Seperti demam tinggi mendadak, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan kelelahan ekstrem.
Disebut super flu karena replikasi genetik virus ini mengalami perubahan genetik (genetic drift). Juga menyebar lebih cepat atau menular lebih agresif dibanding flu biasa.
Dengan kata lain, super flu lebih cepat bereplikasi sebelum sistem imun pada tubuh manusia membangun pertahanan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
