Suku Kalang di Jawa, Penebang Kayu yang Hidup Berpindah Hutan

Suku Kalang di Jawa, Penebang Kayu yang Hidup Berpindah Hutan

DI Pulua Jawa ada  Suku Kalang atau Wong Kalang. Dulunya hidup nomaden dari satu hutan ke hutan lain kini menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Kota Solo dan Jogja.

Kamus Javaansch derduitsch Woordenbook (Gericke Roorda, 1847) menyebut, Wong Kalang dianggap sebagai kelompok manusia yang hidup dan mati di Surakarta atau yang saat ini disebut Kota Solo.

Hal itu dikuatkan dengan pengakuan salah satu keturunan Suku Kalang yang kini tinggal di Ambarawa, Derry. Dia merupakan keturunan generasi kelima dari Wong Kalang.

Dikutip dari Solopos, Derry mengatakan, eyang buyutnya pindah ke Jogja dan anak cucunya sudah menikah dengan orang non-Kalang. Hal inilah yang membuat keluarganya terputus dari budaya Kalang.

Menurutnya saat ini banyak keturunan Wong Kalang yang menetap di Kotagede, Jogja sebagai pengusaha perak. Konon warga Suku Kalang yang didatangkan ke Jogja jumlahnya sekitar 50 KK.

Sesampainya di Jogja mereka ditempatkan di Kotagede. Mereka kemudian menyebar ke timur ke wilayah Solo, Purwodadi, Blora, Jepara, Demak, Gombong, dan Purwokerto.

Sampai saat ini para peneliti belum dapat memastikan asal-usul Wong Kalang. Sebab ada berbagai versi cerita tentang sejarah mereka.

Sebelumnya, sejumlah literatur menyebutkan Wong Kalang adalah kelompok suku yang bermukim di Pulau Jawa, khususnya di wilayah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti Kabupaten Blora dan Rembang di Jawa Tengah; dan Kabupaten Bojonegoro dan Tuban di Jawa Timur. Mereka termasuk dalam sub Suku Jawa yang dengan sengaja hidup mengasingkan diri dalam hutan.

Dikutip dari Scribd.com, Wong Kalang sudah ada sebelum pengaruh Hindu masuk ke Jawa. Pendapat ini berdasarkan prasasti Kuburan Candi di Tegalsari, Magelang tahun 753 Saka atau 831 Masehi.

Dulu, Wong Kalang dengan masyarakat Suku Jawa hidup berdampingan meskin memiliki perbedaan budaya yang signifikan. Perbedaan paling mencolok terlihat pada ritual yang menjadi aspek kehidupan penting bagi kedua suku tersebut.

Jika masyarakat Jawa tinggal di pedesaan, lain halnya dengan Wong Kalang yang memilih mengasingkan diri di hutan yang belum terjamah manusia. Dalam artikel jurnal karya Muslichin yang bertajuk Orang Kalang dan Budayanya: Tinjauan Historis Masyarakat Kalang di Kabupaten Kendal, Wong Kalang dulu dikenal sebagai penebang kayu dan juru angkut di proyek pembangunan. Hal tersebut dikemukakan berdasarkan pendapat Bryne (1951).

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Paramita pada 2011 itu menunjukkan makna Kalang sejalan dengan kehidupan Wong Kalang yang terpisah dari masyarakat Jawa. Konon kala itu mereka tidak boleh berada di lingkungan sekitar masyarakat Jawa.

Mereka pun akhirnya hidup berpinda-pindah dengan mengembara, seperti para manusia purba. Orang Kalang mengandalkan sumber daya alam untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Secara fisik, Wong Kalang tidak berbeda dengan orang Jawa pada umumnya. Namun seorang peneliti Belanda, AB Meyer, dalam bukunya, Die Kalang Auf Java, mengatakan Wong Kalang termasuk golongan suku bangsa berambut keriting dan berkulit hitam. Mereka masuk dalam kategori ras yang sama dengan suku Negrito di Filipina dan suku Semang di Malaysia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: