Dibangun, Monumen Perjuangan

Dibangun, Monumen Perjuangan

KESAMBI– Sejak tahun 1987, keluarga pejuang mengharapkan adanya monumen kebanggaan yang mengenang perjuangan para orang tua mereka. Minggu (10/11) atau bertepatan dengan Hari Pahlawan, Wali Kota Cirebon Drs H Ano Sutrisno MM meletakan batu pertama tanda dimulainya pembangunan monumen perjuangan. Monumen ini untuk mengenang jasa para pahlawan Cirebon. Kemarin, setelah melakukan upacara memperingati Hari Pahlawan di balai kota, Wali Kota Ano Sutrisno bersama rombongan langsung menuju Jl by pass guna meresmikan monumen perjuangan. Tampak hadir Ketua DPRD Kota Cirebon HP Yuliarso BAE, Kepala DPUPESM DR H Wahyo MPd beserta jajarannya, para kepala SKPD, dan keluarga pejuang. Dalam kesempatan tersebut, Ano meletakkan batu pertama tanda dimulainya monumen yang diberi nama Perjuangan Rakyat Cirebon itu. Ditargetkan, 10 November 2014, monumen sudah selesai dibangun. “Sengaja peletakan batu pertama monumen ini di hari pahlawan,” ungkapnya. Monumen Perjuangan Rakyat Cirebon bukan satu-satunya monumen yang akan dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan Kota Cirebon. Kedepan, Pemkot akan mendirikan pula monumen Perjuangan Kapten Samadikun. Besar kemungkinan, monumen Kapten Samadikun didirikan di sekitar pelabuhan. Sekretaris Forum Generasi Muda Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) Kota Cirebon, Danny Jaelani mengatakan, sebagai keluarga pejuang, FKPPI mengucapkan terima kasih kepada Pemkot Cirebon atas didirikannya monumen Perjuangan Rakyat Cirebon. Lokasi di depan Jalan Perjuangan (di kantor Bappeda yang saat ini sedang dibangun), tempat para pahlawan berjuang. Banyak para pejuang gugur pada perang mempertahankan kemerdekaan itu. Sementara, Wakil Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Propinsi Jawa Barat, H Yuyun Wahyu Kurnia SE MM MBA menjelaskan, PPM sebagai organisasi putra putrid veteran, menyampaikan penghargaan kepada Pemkot dan DPRD Kota Cirebon. “Monumen itu semoga menjadi motivasi generasi muda dalam melanjutkan cita-cita para pejuang,” harapnya disampaikan kepada Radar, Minggu (10/11). Selain itu, Yuyun mengusulkan agar nama-nama pejuang yang gugur di pertempuran itu, tercatat di monumen tersebut. Yuyun menerangkan, dalam buku kisah perjuangan masyarakat Cirebon, diceritakan pada tanggal 12 April 1949, pasukan gerilya menghadang patroli Belanda di daerah Cirebon Girang. Dalam pertempuran 3 Jam itu, 7 orang pihak Belanda tewas. Termasuk, Komandan Patroli Belanda yang bernama Letnan Welly. Sedangkan, dari pejuang Cirebon tidak ada korban jiwa. 2 Mei 1949, pasukan Kancil Merah yang dipimpin Kapten Machmud Pasya dan Bunawi, turun ke daerah geriliya Sektor 4 di wilayah Majasem, untuk melakukan penyerangan. Tanggal 4 Mei 1949 sekitar pukul 21.00, pasukan Kancil Merah itu melakukan serangan umum secara serentak ke Kota Cirebon dari semua penjuru (dari Cideng, Parujakan, Sunyaragi, Pegambiran, dan Majasem). Langkah ini sebagai balasan dari pembersihan besar-besaran yang dilakukan Belanda pada 1 Januari 1949. Di mana, sebagian pasukan Kancil Merah tertangkap. “Abdul Kadir, Edi, SN Janaka, mereka diantara yang tertangkap. Meskipun akhirnya meloloskan diri,” terangnya. Setelah itu, satu orang pasukan Kancil Merah bernama Suta ditahan Belanda. Yang saat ini dbangun monumen Perjuangan Rakyat Cirebon, dulu terjadi pertempuran antara Belanda dan pasukan Kancil Merah. Setidaknya, tiga orang pasukan Kancil Merah gugur. Yakni, Warba, Sapari dan Sulaeman. Cerita tersebut, diharapkan menjadi pelengkap pendirian monumen Perjuangan Rakyat Cirebon yang didirikan untuk mengenang jasa mereka. (ysf)  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: