Cinta Sejati

Cinta Sejati

PENASARAN menimbulkan kepo. Atau sebaliknya. Atau sama saja: bagaimana bisa, satu grup polisi takut pada satu remaja. Padahal remaja itu membahayakan begitu banyak siswa yang masih SD. Ia sedang menembaki murid-murid di dalam kelas mereka.

Dari duka beralih ke marah. Setidaknya geram. Paling tidak mempertanyakan: mengapa remaja itu baru bisa dilumpuhkan satu jam kemudian.

Memang remaja itu bersenjata. Tapi seorang diri. Dan lagi ia sudah terjebak di dalam satu kelas: kelas 4 SD di bagian barat Texas.

Betapa mencekamnya keadaan di dalam kelas itu. Betapa lama suasana mencekam itu. Terutama bagi 17 siswa yang masih hidup. Dalam keadaan terluka. Atau pura-pura sudah mati. Tergeletak di lantai. Bersimbah darah. Darah mereka  sendiri. Darah dari teman sekelas mereka. Terutama darah 19 siswa yang mati. Dan darah dari dua orang guru kelas yang juga sudah tewas.

Selama lebih satu jam. Atau  hampir satu jam. Atau 45 menit sekalipun. Betapa mencekamnya. Sementara si pembawa senjata masih ada di dalam kelas itu.

Yang tercekam juga orang tua mereka. Yang berdatangan ke sekolah itu. Yang menunggu dengan cemas, berpuluh menit, apa yang terjadi di dalam sekolah. Apalagi mereka masih mendengar ada suara tembakan.

Beberapa ibu meneriaki polisi. Agar cepat berbuat. Anak mereka sedang terancam nyawa. Polisi bergeming. Desakan kian kuat.

Seorang bapak mendatangi polisi: berikan pada saya rompi dan senjata Anda itu. Saya akan masuk ke sana.

Polisi itu justru marah. Mereka menjawab: sulit mengambil tindakan karena orang tua murid memengaruhi polisi. Akhirnya polisi \'\'mengusir\'\' mereka. Tidak boleh bergerombol di depan gerbang. Mereka harus pindah ke area parkir.

Di hari ketiga setelah penembakan kemarin banyak hal mulai terungkap. Lebih jelas. Lebih detail. Begitulah liputan peristiwa besar yang mendadak. Apalagi di zaman sosmed. Di hari pertama yang penting beritanya cepat tersiar. Baru di hari kedua info yang salah-salah bisa dibenarkan. Kelak, seminggu kemudian, semuanya baru bisa gamblang.

Termasuk soal bagaimana cara remaja bernama Salvador Ramos, 18 tahun, itu bisa masuk kompleks SD Robb Elementary School. Yang di pinggir kota amat kecil Uvalde, Texas.

Berita hari pertama: Ramos lewat pintu belakang. Pintu arah barat. Di situ Ramos sempat berbantah dengan polisi sekolah. Sore harinya ada berita baru: Ramos masuk dengan loncat pagar.

Di hari kedua semuanya baru jelas: ternyata Ramos lewat pintu biasa. Yang tidak dijaga. Tidak pula dikunci. Begitu keterangan resmi polisi setempat.

Dan itulah yang menimbulkan kemarahan. Mengapa tidak ada polisi di situ. Juga bagaimana pintu tersebut tidak dikunci. Padahal sekolah ini punya SOP pengamanan rinci sekali. Semua sudah diatur: petugas harus selalu siap. Pintu harus selalu terkunci.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: