Bukan Sekadar Kue Tradisional: Apem Kinca Cirebon Punya Ikatan Kuat dengan Sejarah Islam!
sejarah apem kinca cirebon, kudapan khas pada saat perayaan maulid Nabi -cookpad.com-Radar Cirebon
RADARCIREBON.COM - Kue apem kinca khas Cirebon, sebuah hidangan sederhana yang terbuat dari tepung beras, telah lama menjadi simbol budaya dan spiritualitas yang mendalam, terutama dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan tradisi lokal lainnya di wilayah Cirebon.
Kudapan kenyal berwarna putih yang disantap bersama siraman kinca (gula merah cair) ini bukan sekadar penganan biasa, melainkan cerminan dari sejarah panjang dan filosofi yang kaya, mencakup permohonan ampun, tolak bala, hingga peringatan peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Meskipun dikenal luas di berbagai daerah di Jawa, kue apem Cirebon memiliki ciri khas dan makna tersendiri, yang membuatnya berbeda dari apem di tempat lain.
Tradisi pembuatan dan pembagian kue apem ini telah berlangsung secara turun-temurun, dari zaman para wali hingga kini, menjadi perekat sosial yang kuat di masyarakat Cirebon.
Asal-Usul dan Makna Historis
Kue apem Cirebon, atau yang dulu dikenal dengan nama cimplo, adalah kue khas yang secara spesifik muncul pada bulan Safar, tepatnya dari tanggal 1 hingga 30 Safar dalam kalender Hijriah.
Penamaan "apem" sendiri diyakini berasal dari bahasa Arab "afwan" atau "afuwwun" yang berarti pengampunan.
Oleh masyarakat Cirebon, kata ini dilafalkan menjadi "apem" atau "ngapem".
Tradisi ini berakar kuat pada penyebaran Islam di tanah Jawa, dengan beberapa sumber menyebutkan bahwa tradisi ngapem ini dimulai oleh Keraton Kanoman di Cirebon sejak zaman Sunan Gunung Jati.
Kue ini juga diyakini diperkenalkan oleh Ki Ageng Gribig, keturunan Prabu Brawijaya, yang membawa kue apem setelah kembali dari perjalanan ke tanah suci dan membagikannya kepada masyarakat sebagai bagian dari syukuran.
Secara filosofis, apem kinca memiliki makna yang mendalam. Kue apem yang tawar dengan kinca manis melambangkan permohonan ampun (apem) dan kebaikan yang manis (kinca).
Pangeran Hanafi, sesepuh Keprabonan, menjelaskan bahwa apem yang dalam bahasa Arab berarti pengampunan atau "ampun mulut" dan kinca yang berarti manis, menyiratkan pengertian pengampunan bagi mereka yang berbicara baik dan manis.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


