9 Bulan Numpang di Madrasah

9 Bulan Numpang di Madrasah

3 Kelas Nyaris Ambruk, Ajuan Belum Ada Jawaban MAJALENGKA – Komitmen pemerintah untuk menyukseskan program wajib belajar pendidikan dasar (wajardikdas) 9 tahun, patut dipertanyakan. Buktinya, meski sejak akhir tahun 2009 tiga ruang kelas di SDN 3 Leuweunggede rusak parah dan nyaris ambruk, namun tidak dianggarkan dalam anggaran tahun ini. Pantauan Radar, kemarin (3/8), tampak plafon jebol dan sejumlah kayu retak. Tembok bangunan kelas juga retak-retak di sejumlah titik. Untuk mengantisipasi ancaman terjadinya runtuh, siswa tiga kelas terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) menumpang di gedung madrasah di desa setempat. Guru kelas 4 SDN 3 Leuweunggede, Eti Sulastri SPd kepada Radar, Selasa (3/8) mengatakan, siswa di tiga kelas, yakni 2, 3, dan 4, hampir sembilan bulan mengungsi ke gedung Madrasah DTA Al Muamalah. “Jika tetap belajar di gedung lama, maka dikhawatirkan akan terjadi kecelakaan. Karena itu, pada Desember 2009, para siswa terpaksa mengungsi ke gedung madrasah,” ungkapnya. Dikatakan, kerusakan yang terjadi di bangunan lama SDN 3 Leuweunggede telah berlangsung lama. Pada tahun 2009, ia hampir mengalami kecelakaan saat mengajar di salahsatu kelas. “Kepala saya tertimpa serpihan dari remukan genteng,” ungkapnya. Berangkat dari pengalaman tersebut, maka pihak sekolah segera mengambil langkah pencegahan dengan mengungsi 51 siswa dari 3 kelas untuk belajar di gedung madrasah. Para siswa masing-masing berasal dari kelas 2 sebanyak 18 siswa, kelas 3 ada 17 siswa, dan kelas 4 terdapat 16 siswa. Tofik Herdiyan, siswa kelas 4, mengatakan, meski merasa cukup nyaman belajar di gedung madrasah, namun ia mengaku merindukan suasana belajar di gedung sekolah sendiri. Dikatakan, prestasi belajar ia dan teman-temannya mengalami penurunan sejak mengikuti KBM di madrasah. Kepala SDN 3 Leuweunggede, Suratna SPd mengatakan, kerusakan gedung sekolah telah berlangsung lebih dari lima tahun. Menurutnya, pada tahun 2007, pihaknya sempat mendapatkan bantuan dana role sharing. Namun, hanya cukup untuk membangung tiga lokal. “Kami memanfaatkannya dengan membangung empat lokas kelas, sedangkan 3 lokal lainnya kondisinya masih seperti semula sejak dibangun tahun 1981,” ungkapnya. Pihaknya juga telah mengajukan permohonan kepada pemerintah melalui Dinas Pendidikan untuk segera diperbaiki. Namun, sejak pengajuan tahun 2008, belum ada kejelasan jawaban. Ia berharap, pemerintah segera meninjau lokasi gedung sekolah yang nyaris ambruk itu, agar mengetahui dengan jelas kondisinya. Sehingga, perbaikannya dapat dipercepat, demi kenyamanan anak didiknya. (azs)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: