Raden Udin Kaenudin, Sejarah Kerajaan Singapura Difilmkan (2)

Raden Udin Kaenudin, Sejarah Kerajaan Singapura Difilmkan (2)

CAMAT Gunung Jati, Udin Kaenudin (49), baru saja menyelesaikan pembuatan film dokumenter Sejarah Kerajaan Singapura (Asal-usul Berdirinya Cirebon,red) bersama Elang Panji Jaya Prawirakusuma dan Raden Achmad Opan Safari Hasyim. Ini menjadi pengalaman pertama bagi Udin Kaenudin di dunia film dokumenter. “Melalui film ini, mari kita bangun Cirebon dengan tidak meninggalkan amanah dan perjuangan leluhur Cirebon Kanjeng Pangeran Cakrabuana (Mbah Kuwu Cirebon) dan Kanjeng Syech Syarif Hidayatullah,” tulis pesannya kepada Radar Cirebon, Senin (17/8). Udin dengan kumis tebal ala Pak Raden memang membuat sejumlah terobosan untuk Cirebon yang dicintainya. Meskipun tidak mudah, upaya gigih terus diupayakan dengan memperkenalkan sejarah Kerajaan Singapura. “Kita minta kepada pemerintah agar ada pengakuan bahwa Mertasinga adalah betul-betul dulu adalah sebuah Kerajaan Singapura,” tegasnya saat menerima Radar Cirebon  di rumahnya blok Lawang Gede, Desa Mertasinga, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Tidak heran jika kerap mendapati Udin Kaenudin bersemangat dalam mencintai Mertasinga. Sepanjang hidupnya, segala peristiwa pada masa lalu, bagi Udin, tidak terkubur oleh masa kini dan masa yang akan datang. “Jika tak kenal sejarah, tak akan kenal diri,” ungkap anak semata wayang pasangan dari Raden Suchri Permadi Hidayat dan Ratu Aminah binti Pangeran Sair Gani ini. Kepada Radar Cirebon, dirinya menceritakan tentang ihwal kelahirannya yang telah dinantikan Raden Yutara, atau dikenal dengan nama Buyut Luwung sebelum meninggal. “Buyut saya mengatakan ikhlas meninggalkan dunia ini, apabila bayi yang lahir dalam kandungan itu lahir, adalah laki-laki. Saya dinanti-nantikan seperti itu,” ungkap ayah dari Raden Dewi Kamelina (18) dan Raden Muhammad Fajri Fantara Surakusuma (13) itu. Tatapannya menerawang tajam seolah bersaing dengan dua warisan pusaka leluhurnya, keris dan pedang. “Saat usia saya muda, ayah saya berpesan jadilah orang yang berani dalam menegakkan kebenaran sambil memberikan sebilah pedang,” ujarnya dengan memperlihatkan pedang yang diduga peninggalan pusaka pada masa perang Kedondong. Ada kisah yang lucu, tambah Udin, pedang ini adalah mahar pernikahan saya. ”Saat itu, saya tidak memiliki apa-apa selain pedang. Bagi saya, pedang memiliki sifat melindungi. Jangan mempermainkan pedang. Oleh karenanya, harus dijaga bagi pewarisnya kelak,” ungkap pria saat mempersunting istri tercinta, seorang bidan, Nurtesin. Menurutnya, manusia terbaik adalah yang memberi manfaat untuk masyarakatnya. Luangkanlah ketulusan dan kejujuran seperti sifat pedang. “Jadilah berani asal benar,” tutur pria yang gemar wayang ini.  (bersambung) (jun/wb/opl)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: