Raden Udin Kaenudin, Menyatukan Dinasti Sunan Gunung Jati dan Keluarga Perang Kedondong (3)

Raden Udin Kaenudin, Menyatukan Dinasti Sunan Gunung Jati dan Keluarga Perang Kedondong (3)

RADEN Achmad Opan Safari Hasyim, seorang filolog Cirebon, yang tinggal tak jauh dari Pasarean Buyut Kilayaman, Rancang Dawuan, Tengah Tani, pantang berhenti menyusuri jejak leluhur Cirebon, para keturunan Sunan Gunung Jati akan datangnya perubahan zaman. ”Sebagian besar masyarakat Cirebon yang masih keturunan kyai-kyai di pesantren salaf masih menyimpan memori dalam bentuk cerita tutur tinular. Begitu juga orang-orang keturunan keraton yang pada masa itu terlibat konflik dengan Belanda masih menyimpan kisah heroik leluhurnya. Sementara keluarga keraton yang dulu kooperatif dengan pihak Belanda berusaha menutupi peristiwa tersebut dengan menyebut peristiwa rakyat Cirebon menentang Belanda sebagai sejarah peteng (gelap,red),” paparnya sambil memperlihatkan naskah Brahmakawi Perang Jaya yang menyiratkan kisah Perang Kedondong. Menurut seorang kerabat salah satu keraton di Cirebon, Elang Panji Jaya Prawirakusuma mendukung gagasan Raden Udin Kaenudin untuk menyatukan keluarga keturunan Sunan Gunung Jati dan keluarga Perang Kedondong. “Ide Raden Udin bagus sekali, selama ini keluarga Sunan Gunung Jati hanya dikenal, yang tinggal di keraton saja. Padahal banyak keturunan yang lainnya di luar keraton, seperti keluarga Gebang, Losari, Pesantren, Rancang, Trusmi, Pangeran Dipati Waringin, keturunan Suryanegara, keturunan Sultan Amir, Sena Jaenudin dan Gegunung yang harus diangkat,” ujarnya, Minggu (23/8). Raden Udin Kaenudin yang ditemui Radar Cirebon di rumahnya mengungkapkan, selama ini pemerintah belum memberikan perhatian khusus kepada para putra pendiri Cirebon. “Oleh karena itu, suatu panggilan nurani saya mengajak seluruh putra wayah (keturunan, red) pendiri Cirebon untuk melakukan perubahan agar Cirebon harus berbeda dengan daerah lain. Aura Cirebon ini, tidak terlepas dari agama. Jangan sampai tergeser,” tegas Udin sambil menunjukkan kumpulan foto-foto lama . Masih kata Raden Udin, ada peristiwa sejarah besar peristiwa pembebasan Sunda Kelapa (Jakarta,red) dari tangan Portugis, perjuangan rakyat Banten, dan Perang Kedondong. Tak banyak orang tahu, bahwa putra wayah dan rakyat Cirebon memiliki andil besar dalam peristiwa tersebut. Lalu, bagaimana sikap kita sebagai pewaris sejarah pendiri Cirebon? Ketika di masa kini, ada pembangunan bandara udara internasional, pelabuhan, dan tol Cipali? “Tentunya, kita harus bersatu untuk berkiprah menyambut perubahan Cirebon sebagai tanah waris peninggalan leluhur,” ungkapnya. Dalam waktu dekat, Raden Udin Kaenudin akan mengundang para keluarga keraton, baik Kanoman dan Kasepuhan. “Kita juga memiliki ikatan emosional dengan masyarakat, khususnya keturunan keluarga Perang Kedondong. Silakan bergabung untuk membangun Cirebon,” pungkas pria yang memiliki darah Keraton Kanoman dan Kasepuhan ini. (bersambung) (jun/wb/opl)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: