Kawasan Kuliner Malam BAT (Bag 1);  Masih Ada PKL di Kartini-Siliwangi

Kawasan Kuliner Malam BAT (Bag 1);  Masih Ada PKL di Kartini-Siliwangi

Masih ingat dengan BAT Culinary Night? Apa kabarnya ya? Masih adakah yang berjualan disana? Wartawan koran ini menghimpun curahan hati dari pedagang yang masih bertahan dan yang sudah kembali ke tempat asal. Laporan: Mike Dwi Setiawati, Kejaksan KAWASAN BAT yang terletak di Jalan Pasuketan Kota Cirebon setiap harinya menjadi kawasan kuliner malam yang buka mulai jam 16.00 WIB sampai 01.00 WIB. Kawasan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena berada di depan bangunan kuno yang masih terpelihara keasliannya. Ya, kawasan kuliner malam yang dibuka sejak 2014 ini menjadi pilihan tempat nongkrong warga Cirebon khususnya anak muda. Tapi masih ingat kah para pedagang di BAT sebagian adalah pindahan pedagang kaki lima (PKL) dari Jl Kartini dan Jl Siliwangi. Lalu bagaimana dengan kondisi PKL di Jl Kartini dan Jl Siliwangi? Menyusuri jalan-jalan protokol tersebut di siang hari khususnya, harus ekstra sabar. Aktivitas kendaraan bermotor yang padat ditambah dengan pedagang kaki lima di kanan kiri jalan. Apalagi pedagang-pedagang yang mangkal di depan sekolah yang berada di jalan tersebut. Makin hari jumlahnya tak bisa dihitung. Pernah sesekali melihat Jl Kartini rapi, itupun kalau ada event besar atau tamu kehormatan datang. Seluruh pedagang di sekitaran jalan itu ditertibkan. Setelah itu, ya balik lagi seperti semula. \"Pernah waktu ada acara walikota seluruh Indonesia itu kami ditertibkan, suruh jangan jualan di pinggir jalan. Tapi ya mau gimana lagi sekarang biasa jualan disini cari uang,\" ujar Dadang (43), salah satu pedagang kaki lima di Jl Kartini, saat ditemui Radar. Dadang pernah ditawari untuk berjualan di kawasan BAT. Namun ia memilih tetap berjualan di Jl Kartini karena jualannya malam sampai dini hari. Sedangkan dagangannya tidak cocok untuk malam hari dan lebih lazim jualan pagi hingga sore. Bukan hanya Dadang, pedagang kaki lima lain Udin (43) memilih tetap berjualan di sekitaran Jl Kartini. Alasannya karena tak ingin kehilangan pelanggan. \"Pernah ditawarin ke BAT, tapi saya gak mau. Udah banyak langgan disini,\" tutur penjual mi ayam itu. Udin mengklaim dirinya berjualan di luar jalur trotoar. Sehingga, keberadaannya tak menghalangi aktivitas pejalan kaki. \"Ini kan dagangan saya masuk, agak ke halaman rumah, gak menghalangi trotoar,\" ungkapnya. Udin yang sudah berjualan selama 15 tahun di kawasan itu, tidak ingin pindah ke tempat lain. Pedagang tidak memerlukan lokasi yang bagus ataupun nyaman, melainkan tempat yang ramai lalu lalang. \"Kami butuh yang banyak pembeli,\" tuturnya. Menengok sebentar ke Kawasan BAT Culinary Night, kabarnya bila dikembangkan lebih lanjut akan bisa menyamai Jl Malioboro di Jogjakarta, karena kelak bukan hanya sebagai kawasan kuliner tetapi dipadukan menjadi kawasan untuk berekspresi kreativitas seni. Apa bisa terwujud? (bersambung)  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: