Setelah Sekolah Dimerger, Kelas Dibagi Paralel

Setelah Sekolah Dimerger, Kelas Dibagi Paralel

CIREBON - Turunnya surat keputusan (SK) merger untuk SDN Pegajahan langsung diimplementasikan. Secara administrasi, SK dikeluarkan November tahun lalu. SDN Pegajahan 1 dan SDN Pegajahan 2, kini berganti nama menjadi SDN Pegajahan 1. Kepala SDN Pegajahan 1, Sri Asih mengatakan, semenjak SK merger turun langsung berdiskusi dan mulai menerapkannya. Meski pelantikannya sebagai kepala sekolah baru dua pekan ini, namun pelaksanaan di lapangan sudah jauh-jauh hari dilakukan. “Saya sudah dilantik, tapi masih nunggu sosialisasi lebih lanjut disdik,” ujar Sri kepada Radar Cirebon, Rabu (7/2). Sosialisasi yang dimaksud terkait dengan penggabungan administrasi dokumen penggunaan anggaran (DPA) sekolah. Dari segi dokumen atau administrasi ini SDN Pegajahan 1 sampai sekarang masih terpisah. Namun untuk sosialisasi kepada orang tua siswa, sudah dilakukannya jauh-jauh hari sejak SK turun. Sejak diberlakukannya penggabungan sekolah, tidak ada pengaruh yang berarti bagi sekolah yang dipimpinnya itu. Mengingat dari pembagian kelas, jumlah siswa antara SDN 1 dan 2 sama jumlahnya dan itu mempermudah pembagian. Dengan komposisi ini, tidak ada penggabungan siswa seperti sekolah komplek lainnya. Antara siswa yang sebelumnya terdaftar sebagai siswa SDN Pegajahan 1 atau 2 kini masih memiliki kelasnya masing-masing. Pembagian kelas yang dilakukan Sri pada muridnya itu dibuat secara pararel. Yakni siswa yang berasal dari SDN Pegajahan 1 disebut kelas pararel A sedangkan siswa yang dulu ada di SDN Pegajahan 2 disebut kelas pararel B. \"Kalau dari ruang kelas kami tidak terpengaruh karena jumlah murid masing-masing sekolah sama. Sekitar 215 orang dan 220 orang di kedua sekolah. Sehingga sekarang saya tinggal membagi jadi kelas paralel saja. Misalnya Kelas 1 A dan B,\" tuturnya. Sebelum ada merger, rombongan belajar yang ada sebanyak 7 kelas di kedua sekolah. Kini setelah digabung otomatis SDN Pegajahan miliki 14 rombongan belajar. Setelah dimerger, dirasakan Sri sekolah semakin kondusif. Mengingat hanya ada satu arahan, yang kemudian kebijakan dan aturan-aturan di sekolah semakin mudah diawasi. \"Dengan merger ini kami merasa lebih kondusif karena kebersamaannya itu. Semuanya satu arahan,\" tuturnya. Selain berpengaruh pada manajemen sekolah, dengan adanya merger diakui Sri berpengaruh pada siswa. Di mana aturan dan kebijakan setidaknya dapat lebih mudah dikendalikan dan berpengaruh pada kedisiplinan siswa. Kemudian menambah kekompakan diantara kedua tenaga pengajar di kedua sekolah ketika sudah digabungkan seperti saat ini. \"Sebenarnya sebelum ada merger pun di sekolah ini sudah terbiasa koordinasi. Diskusi tentang kebijakan sekolah di masing-masing sekolah. Tapi setelah ada merger ini ya saya akui jadi lebih baik lagi,\" jelasnya. Dari segi sarana dan prasarana, ketika penggabungan sekolah diberlakukan, otomatis ada pemanfaatan ruang. Sebelumnya ruang guru di SDN Pegajahan ada 2. Ketika dimerger, ruang guru yang pun disatukan. Ruangan yang tersisa difungsikan sebagai UKS. Dari 24 guru tersebut, terdiri dari 14 orang dari SDN Pegajahan 1 dan 10 orang guru dari Pegajahan 2, kini dimasukan dalam satu ruangan. \"Alhamdulillah dari sarprasnya sendiri jadi lebih banyak pemanfaatannya juga. Termasuk dengan aset barang yang dulu jadi kepemilikan dua sekolah berdasarkan DPA nya itu. Cuma saat ini kita pun masih menunggu komandi dari Didsik kaitannya aset barang ini ingin dibagaimanakan dan sistemnya seperti apa ketika kita sudah menjadi satu. Kami tinggal tunggu waktu sampai Disdik menindak lanjutinya,\" tutupnya. Persoalan administrasi dari penggabungan sekolah juga dialami Kepala SDN Jagasatru 1, Endi Suprianto. Mengingat saat ini administrasi dari rencana kegiatan anggaran (RKA) masih dalam tahap proses. Dari segi kepemimpinan sekolah memang sudah digabung, namun RKA sekolah belum. Hal itu jadi berdampak pada anggaran sekolah. \"Kendalanya di penganggaran. RKA tahun kemarin sudah disusun. Dan RKA itu jatuhnya di Januari. Mudah-mudahan dalam waktu cepat dinas bisa menyelesaikan RKA-nya karena masih ada dua sampai sekarang,” katanya. Sejak SK turun, langkah yang diambil Endi untuk memperkenalkan penggabungan sekolah adalah dengan sosialisasi di masing-masing kelas. Dengan memanfaatkan momen bagi raport dan rapat orangtua siswa, ia berkeliling untuk mensosialisasikannya. \"Dari orang tua responnya juga bagus. Ketika SK turun, saya sudah sosialisasi. Memanfaatkan momen bagi rapor, rapat ortu kelas 6 dan saya keliling kelas untuk sosialisasikan penggabungan sekolah. Mungkin baru sabtu besok saya undang untuk pembentukan komite sekolah karna harus digabung,\" jelasnya. Terakhir, dengan merger ini diakuinya justru menambah ruang gerak anak dan pemanfaatan ruang kelas. Sebelumnya, ketika masih belum bergabung, di kelas 2 SDN Jagasatru 2 harus masuk siang karena menunggu jam kelas satu yang berangkat pagi. Namun kini, ketika penggabungan kelas, semua siswanya berangkat pagi. \"Kebetulan malah jadi mudah pengaturannya. Nambah ruangan karena pakai ruang guru yang dulu ada dua itu. Ketika digabung ruang gurunya, jadi ada sisa ruang untuk anak kelas 2 belajar. Dan sekarang, sudah pagi semua. Paling tinggal dari sisi bangunan saja yang perlu rehab,\" pungkasnya. (myg)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: