Komdas Berbagi Cerita Pahit Cari Donor

Komdas Berbagi Cerita Pahit Cari Donor

CIREBON - Berawal dari keprihatinan akan susahnya mendapatkan darah saat situasi darurat, Komunitas Darah Segar (Komdas) Cirebon terbentuk. Komunitas yang telah memiliki seribuan anggota ini, selalu siap memberikan darah pengganti bagi pasien yang sedang membutuhkan. Tanpa pamrih.

Dalam Kopdar Komdas yang digelar di Komplek Taman Sari Goa Sunyaragi, Minggu (5/7) ratusan relawan Komdas berkumpul untuk saling bertukar cerita. Anggotanya juga meliputi wilayah Ciayumajakuning.

Oni Syahroni, warga Kelurahan Drajat begitu terharu saat menceritakan bagaimana ia pertama kali mengenal Komdas.

Ia bahkan tak kuasa menahan tangis saat menceritakan betapa susahnya mendapatkan darah untuk bapaknya yang sedang sakit komplikasi. Sampai akhirnya, bapaknya diharuskan untuk melakukan cuci darah untuk pertama kali. “Waktu itu saya sedang butuh tiga (labu darah). Tapi nyari ke mana-mana tidak ada,” ungkapnya lirih.

Golongan darah O yang dibutuhkan, ternyata di PMI hanya tersedia 1 labu saja. Oni mengaku sempat putus asa dan merasa sangat sedih. Namun kemudian, seorang tetangganya menghubungi relawan Komdas. Tak sampai 2 jam, relawan datang untuk melakukan transfusi darah untuk bapaknya.

“Ya alhamdulillah saat itu terpenuhi. Kemarin juga bapak saya membutuhkan lagi 3 labu dan hari ini 1, karena sudah kenal, jadi tinggal menghubungi saja,” kata dia.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ciwul Wuliyanto, warga Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Saat itu, dirinya mengaku merasa iba dengan kondisi salah seorang keluarganya, Rasinih yang divonis menderita kanker getah bening.

Susahnya mendapatkan darah juga ia rasakan. Saking susahnya mendapatkan darah, bahkan sempat ada yang menyarakan untuk membayar tukang becak untuk melakukan donor darah. Sempat dia mencari, namun tak sempat menemukan penarik becak.

“Saya bingung. Namanya kita dari kampung, tidak tahu bagaimana prosedurnya. Dikira disuruh mengambil darah itu tinggal ngambil saja. Ternyata harus ada darah pengganti dan sebagainya,” kata Ciwul.

Sementara keluarganya juga tidak ada yang bersedia karena takut melakukan donor darah. Ada satu anaknya yang bersedia, tapi saat itu sedang gatal-gatal, sehingga tidak memenuhi syarat.

Beruntung saat sedang membutuhkan darah itu, ia mengenal salah seorang anggota Komdas. Tak selang lama, beberapa relawan datang untuk memberikan darah pengganti. Ia mengaku sangat bersyukur.

Menyadari pentingnya membantu sesama, ia pun kini aktif sebagai anggota Komdas. Bahkan, Ciwul mengaku, hubungan yang terbangun di antara para anggota pun semakin erat. Mengingat mereka begitu berjasa bagi saudaranya dan juga ratusan orang lain yang telah terbantu.

Pendiri Komdas Cirebon, Budiyono mengatakan, komunitas ini berdiri melalui jaringan media sosial. Rata rata para anggota Komdas pernah mengalami pengalaman pahit akan susahnya mendapatkan darah untuk transfusi saat situasi genting.

Kondisi ini terjadi karena stoknya yang kadang sedang kosong di Palang Merah Indonesia (PMI). Selain itu, terkadang  pasien atau keluarganya juga harus menyiapkan pendonor pengganti untuk di tukar dengan darah yang sudah diproses di PMI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: