Berkat Tambang Ditutup, Para Pengrajin Batu Alam Mulai Bergerak Bangun IPAL Komunal
Ketua Paguyuban Pengrajin Batu Alam Cirebon, Maman Kardiman saat meninjau lokasi pembangunan Ipal Komunal secara urunan.-Samsul Huda-radarcirebon.com
CIREBON, RADARCIREBON.COM - Kesadaran lingkungan mulai tumbuh di kalangan pelaku industri batu alam di Kabupaten Cirebon.
Para pengrajin berinisiatif membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal secara mandiri.
Rupanya, kesadaran mereka tak lepas kebijakan pemerintah atas penutupan akvitas tambang di Kabupaten Cirebon dan Majalengka.
Mereka berharap, pemerintah memberikan perhatian serius terhadap keberlangsungan industri batu alam, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat lokal.
Sebab, ribuan pekerja selama ini menggantungkan hidupnya di industri batu alam.
BACA JUGA:Soal SPMB 2025, Sekda Jabar: Jangan Sampai Ada Anak yang Tidak Lanjut Sekolah
BACA JUGA:Pemprov Jabar Cari Solusi Bersama untuk BIJB Kertajati dan Bandara Husein Sastranegara
BACA JUGA:Spesial Hari Jadi Kota Cirebon, Menginap Kasih Promo Cukup Bayar Rp598
Ketua Paguyuban Pengrajin Batu Alam Cirebon, Maman Kardiman mengatakan, pihaknya tengah merancang pembangunan 34 titik IPAL komunal.
Setiap titik akan memiliki tiga hingga empat kolam dengan kedalaman mencapai 4 meter dan luas area 10 x 15 meter.
"Beberapa pabrik sudah membangun IPAL. Harapan kami, yang belum segera menyusul. Ini demi keberlangsungan usaha dan lingkungan," ujar Maman saat meninjau lokasi pembangunan Ipal di Blok Kedoya, Desa Warugede, Kecamatan Depok, Rabu 18 Juni 2025.
Ia juga berharap pemerintah daerah bisa mempermudah proses perizinan tambang rakyat. Sebab, yang memiliki tambang rakyat itu lahan perorangan, maka izinnya untk dapat dipermudah. Pun dalam proses penambangan dengan baik dan benar.
"Minimal tambang rakyat yang bukan tanah perhutani bisa dibuka lagi. Permudah perizinannya, tanpa mengabaikan cara penambangan yang baik," terangnya.
BACA JUGA:Satu Dekade CEF Akan Kembali Digelar di Kuningan, Begini Penjelasan KPw BI Cirebon
BACA JUGA:Kuasa Hukum Anggap Penetapan AR Sebagai Tersangka Dalam Kasus Gunung Kuda Terlalu Buru-buru
Sementara itu, pelaku usaha industri batu alam, Rustam menyampaikan, saat ini para pengrajin batu alam tengah mengupayakan pembangunan IPAL. Namun keterbatasan dana menjadi kendala utama.
"Kami ingin pemerintah daerah hadir membantu pendanaan. Karena banyak pelaku usaha kecil kesulitan membangun IPAL mandiri," katanya.
Menurutnya, setiap titik IPAL komunal nantinya akan digunakan oleh sekitar 12 pelaku usaha. Para pengrajin pun telah menjalin kerja sama dengan PT Indocement terkait pengelolaan limbah.
"Kami berharap ada forum bersama dengan pemerintah untuk menyatukan langkah. Tanpa mematikan usaha kami.”
“Maka, jangan ambil keputusan sepihak. Rangkul kami, baik pabrik besar maupun kecil. Bimbing kami agar usaha ini tetap hidup dan tidak merusak lingkungan," tuturnya.
BACA JUGA:Jasad Rian dan Dani Berhasil Ditemukan, Kapolres Cirebon Kota Hentikan Proses Pencarian Korban
Disinggung apakah lokasi relokasi yang telah disediakan pemerintah daerah akan digunakan? Rustam menegaskan, ketika seluruh pembiayaan relokasi ditanggung pemerintah tentu siap. Pembiayaan yang dimaksud adalah, pemasangan listrik, alat potong batu dan lainnya.
"Kami siap direlokasi, tapi tolong bantu infrastruktur dasarnya. Kalau kami pindah, untuk pasangnya saja sampai Rp100 juta. Belum alat potong batu yang harganya mencapai Rp5 juta hingga Rp60 juta," ucapnya.
Lebih simpelnya, tambah Rustam, tidak perlu direlokasi. Pengrajin batu alam siap mandiri. Termasuk membangun Ipal komunal dan Ipal mandiri. "Tapi dengan catatan bimbing kami, agar lingkungan tidak tercemar dan tetap asri," pungkasnya. (sam)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: reportase

