Intip Cara Pembuatan Kecap Manis Khas Majalengka, Oleh-Oleh Wajib dari Majalengka!
Kecap khas Majalengka.-Instagram-radarcirebon
RADARCIREBON.COM- Kecap tradisional asli dari Majalengka, khususnya merek Ban Bersayap, telah menjadi oleh-oleh khas dan ikon legendaris kota angin, Majalengka, Jawa Barat. Pusat produksi kecap rumahan di Majalengka umumnya berada di wilayah Kelurahan Tonjong dan Cigasong, yang sebagian masih mempertahankan cara pembuatan tradisional.
Salah satu produsen yang tetap eksis lebih dari 50 tahun adalah kecap Ban Bersayap, yang sudah berdiri sejak tahun 1963 dan dirintis oleh almarhum Haji Suntamah.
Awalnya, usaha kecap ini hanyalah sampingan usaha toko kelontong. Seiring semakin besarnya minat masyarakat terhadap kecap asli Majalengka, usaha kelontong tersebut ditinggalkan, dan kini usaha kecap menjadi bisnis utama keluarga turun-temurun.
Proses pembuatan kecap Ban Bersayap sangat unik dan sarat tradisi, dimulai dari penggunaan bahan baku kedelai hitam berkualitas yang didatangkan langsung dari sentra pertanian di Jawa Tengah seperti Losari dan Brebes.
BACA JUGA:Era Baru Audio Rumah: Speaker WiFi Samsung Hadirkan Audio 3D Imersif dan Desain Ikonik
Kedelai yang telah dipilah akan melalui serangkaian proses, mulai dari pencucian dan perebusan awal, kemudian penjemuran untuk mengurangi kadar air. Kedelai yang masih agak basah disimpan selama lima sampai tujuh hari agar terjadi pertumbuhan ragi atau jamur alami yang penting untuk fermentasi.
Selanjutnya, proses penjemuran kedua dilakukan sampai kedelai benar-benar kering dan siap untuk direndam dalam air garam selama minimal dua puluh hari.
Proses perendaman ini merupakan tahap fermentasi inti, yang semakin lama waktunya semakin berdampak baik pada kualitas kecap yang dihasilkan.
Setelah fermentasi, kedelai direndam akan melalui proses perebusan selama empat hingga delapan jam untuk memisahkan ampas dan sari kedelai. Ampas hasil perebusan tidak diproses lebih lanjut, sementara air sari kedelai yang diperoleh akan menjadi komponen utama kecap.
BACA JUGA:Samsung Pamer Visi Bespoke AI di CES 2026: Perangkat Rumah Kini Jadi Home Companion
Pada tahap berikutnya, sekitar 80 kilogram gula aren dan 17 kilogram garam digunakan sebagai pelengkap bahan utama ratusan kilogram kedelai hitam. Gula aren dipilih dengan cermat karena kualitas dan tingkat kekeringannya sangat berpengaruh pada hasil akhir kecap.
Gula aren yang telah mencair dan mendidih kemudian dicampurkan dengan air sari kedelai, tahap kritis yang membutuhkan kehati-hatian karena reaksi panas yang terjadi antara gula dan air cukup tinggi dan berbahaya bagi pekerja.
Tahap terakhir dalam pembuatan kecap tradisional Majalengka adalah proses memasak campuran sari kedelai hitam dan gula aren hingga matang dan memperoleh tekstur kental yang diinginkan.
Setelah kecap matang, dilakukan penyaringan ulang untuk memastikan kecap benar-benar bersih dari ampas atau kotoran yang tertinggal dari proses sebelumnya. Proses penyaringan ini biasanya dilakukan tiga hingga empat kali dari awal sampai akhir produksi. Proses penyaringan menjadi penentu kualitas rasa kecap.
BACA JUGA:20 Kasus Sepanjang 2025, KAI Cirebon Tegas Larang Pelemparan Batu ke Kereta Api
Jika kecap sudah benar-benar bersih dan matang, maka tahap selanjutnya adalah proses pendinginan. Kecap harus didinginkan terlebih dahulu agar tidak merusak kemasan dan kualitasnya tetap terjaga. Setelah cukup dingin, kecap mulai dikemas ke dalam botol-botol yang sebelumnya sudah dicuci bersih.
Dalam sekali produksi, biasanya bisa dihasilkan sekitar 990 botol kecil dan 180 botol besar kecap tradisional. Dalam rangka menjaga kualitas, pembersihan botol kemasan pun masih dilakukan secara tradisional, botol dicuci dan dijemur di bawah terik matahari selama satu minggu agar benar-benar kering dan bebas dari residu yang dapat mempercepat kerusakan kecap.
Meskipun tidak menggunakan bahan pengawet kimia, kecap tradisional asli dari Majalengka terkenal dapat bertahan hingga dua tahun lamanya. Hal ini berkat proses fermentasi yang baik serta penggunaan garam alami selama pembuatan.
Harga kecap ini pun terjangkau, umumnya dijual mulai dari ribuan hingga belasan ribu rupiah per botol, sehingga menjadi oleh-oleh khas yang sangat digemari masyarakat dan wisatawan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

