Daya Motor

Prabowo Ungkap Alasan Pangkas Anggaran, Demi Cegah Korupsi

Prabowo Ungkap Alasan Pangkas Anggaran, Demi Cegah Korupsi

Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan alasannya membuat kebijakan pemangkasan belanja anggaran negara yang tidak efisien oleh pemerintahannya. -Bakom RI-

JAKARTA, RADARCIREBON.COM - Presiden RI Prabowo Subianto blak-blakan mengenai alasan di balik kebijakan pemangkasan  belanja anggaran negara yang tidak efisien oleh pemerintahannya.

Dalam siaran “Presiden Prabowo Menjawab” bersama para pakar dan jurnalis, ia menegaskan bahwa efisiensi besar-besaran adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan uang rakyat dari potensi tindak pidana korupsi.

Prabowo mengungkapkan bahwa pada tahap awal efisiensi, pemerintah berhasil menghemat dana sebesar Rp308 triliun. Ia meyakini, jika dana tersebut tidak segera dipotong, maka akan membuka celah korupsi.

"Waktu pertama melakukan efisiensi, kita menghemat Rp308 triliun dari pemerintah pusat. Dari mana itu? Dari semua pengeluaran yang akal-akalan.”

BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Jaga Defisit APBN Tetap di Bawah 3 Persen

“Keyakinan saya, itu semua Rp308 triliun ini jika tidak dipotong, ini ke arah korupsi," jelas Prabowo, dalam tayangan Kamis 19 Maret 2026.

Prabowo mengaitkan langkah tersebut dengan indikator ekonomi Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yang menunjukkan tingkat efisiensi investasi suatu negara.

Ia menyebut ICOR Indonesia berada di angka level 6,5, jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Thailand (4), Malaysia (4), bahkan Vietnam (3,6).

Tingginya angka ICOR menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan modal yang jauh lebih besar untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan ekonomi dibandingkan negara lain.

Dengan APBN yang mendekati Rp3.700 triliun (US$230 miliar), Prabowo melihat ada ketidakefisienan sekitar 30 persen atau setara US$75 miliar.

BACA JUGA:Mobil Dinas Miliaran Jadi Sorotan, Prabowo Minta Kepala Daerah Berbenah

"Jadi angka ini artinya 30 persen lebih tidak efisien dari Thailand, Malaysia, Filipina, atau Vietnam. Kalau saya pakai ini sebagai dasar, berarti mendekati GDP kita yang Rp3.700 triliun atau US$230 miliar. 30 persen dari itu maka US$75 miliar. Ini tidak efisien," lanjutnya.

Prabowo menyebut efisiensi yang sudah dilakukan oleh pemerintahannya baru tahap awal. Ia menilai masih banyak ruang untuk penghematan, terutama dari belanja rutin yang tidak esensial.

Sejumlah pos anggaran yang dipangkas antara lain biaya seremonial, pembelian alat tulis kantor, hingga pengeluaran untuk rapat dan seminar di luar kantor.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: reportase