Biaya Operasional Tembus Rp400 Juta per Tahun, DKM Masjid Agung Sumber Put Hand's Up
Biaya operasional Masjid Agung Sumber, Kabupaten Cirebon dalam setahun amat besar. Kondisi ini membuat DKM kesulitan dalam pengelolaannya.-SAMSUL HUDA-RADARCIREBON.COM
CIREBON, RADARCIREBON.COM - Beban biaya operasional Masjid Agung Sumber di pusat pemerintahan Kabupaten Cirebon kian membengkak.
Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Sumber pun mulai kewalahan mengelola sarana tempat ibadah tersebut.
Betapa tidak, kebutuhan anggaran mencapai ratusan juta rupiah per tahun. Idealnya, pengelolaan masjid yang berada di depan kantor bupati dan DPRD Kabupaten Cirebon itu diambil alih pemerintah daerah.
Ketua DKM Masjid Agung Sumber, Mushafa mengungkapkan, biaya operasional masjid sudah mencapai lebih dari Rp400 juta dalam setahun.
BACA JUGA:Masjid Raya Bandung Tak Lagi Dibiayai APBD Jabar, Ini Penjelasan Gubernur Dedi Mulyadi
BACA JUGA:Selesai Salat Subuh, Motor Jamaah Masjid di Cirebon Raib: Aksi Pencuri Terekam CCTV
Angka tersebut belum mencakup kebutuhan operasional Menara Masjid setinggi 13 lantai yang hingga kini belum bisa dihitung secara pasti.
"Untuk operasional masjid saja bisa menghabiskan sekitar Rp400 juta per tahun. Itu belum termasuk menara. Dengan kondisi seperti ini, keuangan DKM benar-benar kewalahan. Lama-lama kami tidak sanggup menutup biaya operasional," ujar Mushafa, Senin 19 Januari 2026.
Menurutnya, jika pengelolaan Masjid Agung Sumber dan menaranya tetap dibebankan kepada DKM, risiko terbengkalainya fasilitas tersebut sangat besar. Padahal, pembangunan dan pemeliharaannya selama ini menggunakan dana Pemkab Cirebon.
"Kalau masih dikelola DKM, sangat mungkin semuanya kembali terbengkalai. Kami tidak punya kemampuan anggaran sebesar itu. Tapi yang disalahkan nanti tetap DKM oleh masyarakat," tuturnya.
Mushofa menjelaskan, Menara Masjid Agung Sumber awalnya dirancang sebagai ruang multifungsi untuk kegiatan keagamaan dengan konsep penyewaan tiap lantai. Namun, skema tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
BACA JUGA:Berbagi Kebahagiaan, UPZ Masjid At-Taqwa Centre Ajak Puluhan Anak Marbot Wisata ke Guci Tegal
"Minat sempat ada, tapi setelah tahu menaranya tinggi dan tidak ada lift, banyak yang mundur. Kalaupun ada yang menyewa, tetap tidak cukup untuk menutup biaya operasional," jelasnya.
Selain itu, DKM juga tidak memungkinkan mematok tarif sewa tinggi. Sebab, kegiatan yang berlangsung di menara bersifat keagamaan, bukan komersial.
"Tidak mungkin kami menarik biaya besar. Kegiatan di sana murni keagamaan, bukan bisnis. Dan jelas tidak mungkin menara masjid digunakan untuk kepentingan usaha," tegasnya.
Ia menambahkan, perjuangan meminta penyelesaian pembangunan menara masjid saja memakan waktu lebih dari satu dekade.
Kini, meski bangunan sudah rampung, persoalan baru muncul karena minimnya pemanfaatan dan tingginya biaya operasional.
"Mudah-mudahan tahun ini serah terima Masjid Agung berikut Menara nya ke Pemkab bisa terealisasi. Kalau sudah menjadi aset Pemkab, pengelolaannya tentu lebih terjamin dan perawatannya bisa optimal," tandasnya.
Sementara itu, Sekretaris Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Cirebon Yuyun Wahyu Wardhana mengaku, belum dapat memastikan rencana serah terima aset Masjid Agung Sumber dan Menara dari DKM kepada Pemerintah daerah.
BACA JUGA:Lahir dari Kas Masjid, Begini Cikal Bakal BRI Yang Berusia 130 Tahun
Namun, ia tidak menampik sempat melihat adanya surat usulan dari pihak DKM terkait rencana penyerahan aset kepada Pemkab Cirebon.
"Saya belum tahu pasti, tapi memang sempat melihat surat usulan dari DKM terkait penyerahan aset Menara dan Masjid Agung Sumber ke Pemkab Cirebon," katanya.
Ketika usulan tersebut disetujui, kata Yuyun, pemerintah daerah pun masih harus mempertimbangkan kemampuan daerah dalam mengelola aset tersebut.
Khususnya, terkait pembiayaan operasional masjid. Alasannya, saat ini pemerintah daerah sedang melakukan efisiensi anggaran.
"Kami belum bisa memastikan apakah Pemkab mampu menanggung biaya operasional masjid. Sekarang kan sedang ada kebijakan efisiensi anggaran. Tapi lihat saja nanti ya," imbuhnya.
Yuyun juga mengaku, belum menerima data yang valid terkait nilai aset Masjid Agung Sumber. "Nanti akan kami cek ulang data validnya supaya semuanya jelas dan terang benderang," pungkasnya. (sam)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: reportase

