Daya Motor

BBWS Siaga Hadapi Kemarau Panjang, Pompa Tenaga Surya hingga Drone Air Disiapkan

BBWS Siaga Hadapi Kemarau Panjang, Pompa Tenaga Surya hingga Drone Air Disiapkan

Kepala BBWS Cimanuk–Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro saat open mic dengan media kemarin (12/3/2026).-Ade Gustiana-radarcirebon

CIREBON, RADARCIREBON.COM – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk–Cisanggarung mulai bersiap menghadapi ancaman musim kemarau panjang tahun ini.

Peringatan datang dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang memprediksi awal kemarau maju lebih cepat, yakni April 2026. Durasi kemarau juga diperkirakan lebih panjang dan suhu udara lebih panas dibanding biasanya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi BBWS Cimanuk–Cisanggarung. Sebab, dampaknya bukan hanya pada ketersediaan air, tetapi juga pada keberlanjutan sektor pertanian di wilayah layanan sungai dan irigasi yang membentang di wilayah Jawa Barat hingga Jawa Tengah.

Kepala BBWS Cimanuk–Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro, mengingatkan bahwa puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Jika tidak diantisipasi sejak awal, musim kemarau yang lebih panjang berpotensi mengganggu keberhasilan pengelolaan air yang selama ini mulai menunjukkan hasil positif.

BACA JUGA:Seminggu Lagi Lebaran, Rumah Warga Suranenggala Kidul Hangus Terbakar

Ia menyebut setidaknya ada tiga keberhasilan besar yang dicapai BBWS dalam beberapa tahun terakhir. Keberhasilan pertama adalah panen raya di wilayah irigasi yang selama puluhan tahun tidak pernah terjadi.

Pada September 2025 lalu, sekitar 2.000 hektare lahan pertanian berhasil melaksanakan panen raya. Peristiwa ini menjadi momentum penting bagi petani karena selama sekitar 30 tahun kawasan tersebut tidak pernah mengalami panen serentak dalam skala besar.

Keberhasilan kedua terjadi di wilayah Brebes, Jawa Tengah. Air dari Bendungan Kuningan berhasil dialirkan untuk mendukung sistem irigasi di daerah tersebut. Hasilnya, petani mampu meningkatkan intensitas tanam hingga tiga kali dalam setahun.

Capaian tersebut dinilai sebagai lompatan besar dalam pengelolaan sumber daya air lintas wilayah. Pasokan air dari bendungan mampu memperkuat ketahanan produksi pertanian di daerah yang sebelumnya sangat bergantung pada musim hujan.

BACA JUGA:Renovasi Eks Pusdiklatpri Jadi Mako Baru Polres Cirebon Kota Dilakukan Bertahap

Keberhasilan ketiga adalah penertiban kawasan sempadan sungai di Sukalila. Penataan ini menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi sungai sekaligus menata ruang di sekitar aliran air.

Program tersebut direncanakan berlanjut setelah masa Lebaran tahun ini. Penataan sempadan sungai dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologis sekaligus mengurangi potensi gangguan terhadap aliran air.

Namun, dua keberhasilan pertama—yakni peningkatan produksi pertanian dan distribusi air irigasi—dinilai sangat rentan terhadap ancaman kekeringan panjang.

Karena itu, BBWS mulai menyiapkan berbagai langkah mitigasi. Salah satunya dengan menyiagakan sumber daya manusia yang terdiri dari petugas sungai dan petugas irigasi di lapangan.

BACA JUGA:Kejari Majalengka Sita Tanah Terpidana Korupsi Dana GP3K Senilai Rp1,3 Miliar

Selain personel, BBWS juga memamerkan berbagai peralatan penanganan bencana sumber daya air. Dalam pengelolaan air, terdapat dua ancaman utama yang selalu dihadapi, yaitu banjir dan kekeringan.

Untuk menghadapi kekeringan, BBWS kini memiliki teknologi baru berupa pompa air berbasis tenaga surya. Peralatan ini dirancang khusus untuk membantu petani ketika debit air menurun drastis.

Pompa tersebut menggunakan panel surya sebagai sumber energi. Teknologi ini dipilih karena saat musim kemarau, intensitas panas matahari justru meningkat sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber tenaga.

Peralatan ini nantinya bisa dipinjam oleh kelompok petani pemakai air. Sistem peminjaman dilakukan tanpa biaya.
Petani tidak perlu mengeluarkan biaya bahan bakar karena pompa tersebut tidak menggunakan BBM.

BACA JUGA:Harga Bumbu Dapur Melonjak Jelang Lebaran, Cabai Rawit Merah Tembus Rp120 Ribu per Kg di Cirebon

Namun, masa peminjaman dibatasi maksimal dua minggu agar dapat digunakan secara bergiliran oleh kelompok petani lainnya.

Selain pompa tenaga surya, BBWS juga menyiapkan sejumlah teknologi lain. Di antaranya drone air yang dapat membantu distribusi atau penyemprotan air dalam kondisi tertentu.

BBWS juga memiliki peralatan pengeboran sumur dangkal yang mampu mencapai kedalaman hingga 60 meter. Sumur tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif ketika saluran irigasi mengalami penurunan debit.

Sementara itu, ketersediaan air tidak hanya bergantung pada bendungan. BBWS juga mengandalkan sejumlah embung sebagai tampungan air tambahan yang berfungsi menjaga pasokan air di musim kering.

BACA JUGA:Optimalkan Tugas dan Fungsi Ketenagakerjaan, Kemnaker Jalin Kerja Sama dengan Pelita Air ?

Seluruh langkah tersebut disiapkan untuk memastikan sistem irigasi tetap berjalan, sekaligus melindungi keberlanjutan produksi pertanian di wilayah layanan Cimanuk–Cisanggarung. (ade)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait