Masjid Keramat Kaliwulu Cirebon, Pusat Ibadah dan Tradisi Ramadan yang Sarat Sejarah
KERAMAT: Masjid Keramat Kaliwulu Syekh Abdurohman di Desa Kaliwulu, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, selalu ramai saat Ramadan.-Ade Gustiana-radarcirebon
CIREBON, RADARCIREBON.COM - Saat senja mulai merunduk di ufuk barat, halaman Masjid Keramat Kaliwulu Syekh Abdurohman di Desa Kaliwulu, Kecamatan Plered, Kabupaten CIREBON, perlahan dipenuhi warga.
Aroma hidangan berbuka puasa berpadu dengan tawa dan canda ringan, menciptakan suasana hangat yang khas Ramadan.
Masjid tua yang kini ditetapkan sebagai cagar budaya itu kembali menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat, persis seperti tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.
Menjelang azan Magrib, jamaah duduk berkelompok di halaman masjid, menunggu hidangan yang disiapkan secara gotong royong oleh warga dan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).
Suasana kebersamaan terasa kental; obrolan ringan tentang kehidupan sehari-hari berpadu dengan semangat berbagi. Setelah berbuka, lantunan shalawat dan suara tasbih mengiringi Salat Tarawih dan tadarus Alquran, mengisi malam dengan ketenangan spiritual.
Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, kompleks masjid semakin ramai. Jamaah dari berbagai usia datang untuk salat malam dan beritikaf, berharap mendapat keberkahan dari malam-malam ganjil.
“Biasanya jamaah memadati masjid untuk salat malam dan iktikaf,” kata Mulyadi, pengurus DKM Masjid Keramat Kaliwulu.
Tak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi tujuan peziarah. Banyak warga datang untuk berziarah ke makam Syekh Abdurohman, penyebar Islam di wilayah Kaliwulu yang merupakan keturunan Ki Gede Panjunan dan masih memiliki hubungan garis keturunan dengan Sunan Gunung Jati.
BACA JUGA:Timnas Malaysia Disanksi, Ranking FIFA Anjlok! Indonesia Bisa Naik Peringkat
Di area masjid terdapat pula Sumur Kejayaan dan Sumur Pengasihan, yang diyakini membawa keberkahan bagi mereka yang berdoa di sana. Meski keberadaan sumur dipandang sakral, masyarakat menekankan bahwa semua terjadi atas izin Tuhan, dan sumur hanyalah bagian dari tradisi turun-temurun.
Keunikan Masjid Keramat Kaliwulu juga terlihat dari arsitektur bangunannya. Masjid berdiri hanya di atas 16 tiang kayu bulat yang ditopang batu hitam, tanpa pondasi semen.
Dindingnya dihiasi piring-piring kuno yang ditanam di dalam bata, ciri khas masjid tua Cirebon. Pintu masuk dibuat lebih rendah dari ukuran normal, memaksa setiap pengunjung menundukkan kepala, simbol untuk selalu merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta.
Menurut Masari, tokoh masyarakat setempat, masjid awalnya dibangun di Blok Silintang (sekarang Desa Wotgali). Namun, kepercayaan masyarakat mengatakan masjid “berpindah secara gaib” ke lokasi saat ini di Blok Kauman. Misteri ini menambah aura sakral dan sejarah yang menyelimuti masjid hingga kini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

