Daya Motor

Cerita Kuwu Pegagan Selamatkan Remaja yang Nekat Panjat Tower BTS

Cerita Kuwu Pegagan Selamatkan Remaja yang Nekat Panjat Tower BTS

Deni Harman-Khoirul Anwarudin-radarcirebon

RADARCIREBON.COM - Aksi nekat remaja berusia 16 tahun berinisial BM yang memanjat tower BTS di Blok Tedo, Desa Pegagan, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Selasa (21/4/2026) sore lalu, berakhir selamat. Salah satunya berkat keberanian Kuwu Pegagan, Deni Harman.

Deni Harman (33) sendiri bukan sosok yang asing dengan pekerjaan di ketinggian. Sebelum dilantik menjadi Kuwu pada 2021, ia sempat bekerja sebagai guru honorer.

Namun karena penghasilan yang dirasa belum mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia kemudian mengambil pekerjaan tambahan di bidang teknologi dan telekomunikasi.

Selama beberapa tahun, Deni pernah terlibat dalam pekerjaan jaringan internet, khususnya pada era perangkat point to point. Pekerjaan itu menuntutnya untuk naik turun tiang hingga tower guna memasang perangkat dan radio jaringan. Selain itu, ia juga sempat bekerja di bidang konstruksi yang mengharuskannya terbiasa bekerja di ketinggian.

BACA JUGA:Transportasi Umum Gratis di Jakarta saat WFH ASN, Langkah Nyata Tekan Emisi

“Dulu memang sering naik tower, pasang perangkat jaringan. Jadi sudah cukup terbiasa dengan kondisi seperti itu,” ujar Deni.

Selain itu, latar belakang di bidang IT juga membuatnya tidak hanya fokus pada pemrograman dan pengembangan sistem jaringan, tetapi juga turun langsung untuk melakukan maintenance. Termasuk ketika harus memperbaiki perangkat yang berada di atas ketinggian.

Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal saat menghadapi situasi darurat pada Selasa (21/4/2026) sore itu.

Adapun peristiwa tersebut bermula sekitar pukul 16.30 WIB, saat Deni menerima laporan dari salah seorang perangkat desa terkait adanya remaja yang berada di atas tower BTS setinggi kurang lebih 40 meter.

BACA JUGA:MUBES IKA UGJ 2026 Siap Digelar, Perkuat Persatuan Alumni untuk Masa Depan Kampus

Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak desa langsung berkoordinasi dengan berbagai unsur terkait, mulai dari kepolisian, TNI hingga pemadam kebakaran. Sementara itu, warga yang mengetahui kejadian tersebut mulai berdatangan ke lokasi dan menyaksikan BM berada di atas tower hingga membuat jalan utama macet.

Upaya awal pun sempat dilakukan dengan pendekatan persuasif dari bawah. Namun, berbagai cara yang dilakukan tidak membuahkan hasil.

“Warga sudah teriak dari bawah, bahkan sempat meminjam toa masjid supaya suaranya sampai ke atas. Tapi ternyata pas sampai di atas itu, suara dari bawah memang tidak terdengar,” ungkapnya.

Situasi yang semakin gelap menjelang malam membuat Deni mengambil keputusan cepat. Ia juga menilai BM masih dalam kondisi kooperatif dan memungkinkan untuk diajak komunikasi secara langsung.

BACA JUGA:Sengketa Tanah di Cirebon: TNI dan Warga Saling Klaim, Satu Beli Satu Diberi

Sekitar pukul 18.00 WIB, Deni akhirnya memutuskan untuk memanjat tower BTS. Ia tidak sendiri, melainkan mengajak satu orang lainnya, yakni kakaknya, Adi Sucipto untuk membantu proses evakuasi.

“Saya lihat anak ini masih bisa diajak komunikasi. Akhirnya saya ajak satu orang lagi, kebetulan kakak saya. Posisi saya di atas, dia (BM-red) di tengah, dan kakak Saya yang jaga di bawah,” jelasnya.

Menurut Deni, pengaturan posisi tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk selama proses evakuasi berlangsung.

Saat sudah berada di atas, BM pun tidak langsung bersedia turun. Deni kemudian memilih pendekatan secara personal dengan mengajak berbicara dan mendengarkan keluhan yang dirasakan remaja tersebut.

BACA JUGA:HUT Ke-544 Cirebon, Wabup Jigus Ajak ASN dan Warga Biasakan Hidup Sehat

“Saya ajak ngobrol pelan-pelan, saya dengarkan dulu apa yang dia rasakan,” katanya.

Proses pembujukan itu berlangsung sekitar 15 hingga 20 menit. Dalam percakapan tersebut, BM mengungkapkan sejumlah persoalan yang dihadapinya.

“Masalahnya memang cukup kompleks, mulai dari keluarga, lingkungan pertemanan, sampai keinginannya untuk bisa sekolah lagi dan bekerja bantu orang tua,” ujar Deni.

Ia menilai, kondisi tersebut merupakan bentuk kegalauan remaja yang tidak memiliki ruang untuk menyalurkan perasaan dan bercerita.

BACA JUGA:441 Calhaj Kloter 5 Cirebon Resmi Dilepas

“Intinya sih kegalauan remaja ya. Dia merasa tidak punya tempat untuk bicara,” tambahnya.

Setelah melalui proses pendekatan tersebut, BM akhirnya bersedia turun dari tower dengan selamat. Aksi BM yang sempat berada di atas tower itu sebelumnya membuat warga sekitar khawatir. Bahkan, sempat muncul dugaan bahwa tindakan tersebut berkaitan dengan upaya bunuh diri.

Namun, Deni menegaskan tidak ada indikasi kuat ke arah sana. Meskipun dalam kondisi tersebut, menurutnya ada saja kemungkinan seseorang akan berlaku nekat.

“Sebenarnya BM ini termasuk anak yang pinter, suka menganalisa dan pandangannya jauh ke depan. Hanya saja selama ini, Dia tidak tahu cara mengungkapkan beban hidup dan keinginannya saja," ujarnya. (Awr)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: