Abrasi dan Rob Terus Ancam Desa Ambulu, BOPPUJ Tinjau Lokasi
Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPUJ) bersama sejumlah instansi terkait melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak rob di Desa Ambulu Kecamatan Losari, kemarin.-Deni Hamdani-radarcirebon
CIREBON, RADARCIREBON.COM -Ancaman abrasi dan banjir rob yang terus menggerus kawasan pesisir Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, kembali mendapat perhatian pemerintah.
Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPUJ) bersama sejumlah instansi terkait melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak, Kamis (11/6).
Kunjungan tersebut bertujuan melihat kondisi terkini kawasan pesisir sekaligus membahas langkah penanganan yang dinilai semakin mendesak.
Hadir dalam kegiatan itu perwakilan BOPPUJ, Bapperida Kabupaten Cirebon, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR), Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), Camat Losari, serta Pemerintah Desa Ambulu.
Kuwu Ambulu, Sunaji mengatakan, abrasi dan banjir rob telah menjadi persoalan tahunan yang terus mengancam permukiman warga.
Berbagai upaya telah dilakukan, baik melalui pengajuan bantuan ke pemerintah pusat maupun pembangunan perlindungan darurat secara swadaya oleh masyarakat.
“Kami terus berupaya mencari solusi agar warga bisa hidup lebih aman dan tidak selalu dihantui banjir rob,” ujar Sunaji.
Menurutnya, pemerintah pusat sebelumnya telah merespons laporan kondisi Ambulu dengan mengirim tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung untuk melakukan peninjauan lapangan.
BACA JUGA:Hasil Pertandingan Piala Dunia 2026 Korea vs Ceko: Taegeuk Warriors Bangkit dan Tempel Ketat Meksiko
Hasilnya, pembangunan tanggul permanen mulai direalisasikan pada pertengahan 2024.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pembangunan tanggul belum mampu menjangkau seluruh kawasan rawan.
Perlindungan yang ada dinilai masih belum cukup untuk mengantisipasi ancaman rob dan abrasi di sepanjang Pesisir Ambulu.
Sebagai langkah darurat, pemerintah desa bersama warga membangun tanggul sementara sepanjang lebih dari satu kilometer pada awal 2025 menggunakan pancang bambu dan waring. Tanggul tersebut sempat menahan masuknya air laut ke kawasan permukiman.
Meski demikian, konstruksi sederhana itu tidak mampu bertahan lama akibat gelombang pasang yang terus menerjang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

