Furniture Bootcamp Batch II di Cirebon, Perkuat Daya Saing Industri Rotan Indonesia
HIMKI gelar Furniture Bootcamp Batch di Kota Cirebon, sebagai upaya meningkatkan daya saing industri furnitur nasional di pasar global.-Cecep Nacepi-Radar Cirebon
CIREBON,RADARCIREBON.COM – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) kembali menggelar Furniture Bootcamp Batch, sebagai upaya meningkatkan daya saing industri furnitur nasional di pasar global. Setelah penyelenggaraan perdana di Jepara yang berfokus pada industri perkayuan, bootcamp kedua digelar di Cirebon dengan fokus pengembangan furnitur berbahan rotan dan bambu.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 40 perusahaan furnitur di seluruh Indonesia dan dibuka di salah satu tempat makan yang ada di Jalan Pemuda Raya, Sunyaragi, Kota Cirebon, Senin pagi (13/7/2026).
Wakil Ketua Umum Bidang UKM dan Kewirausahaan DPP HIMKI, Bambang Wijaya, mengatakan pelatihan tersebut menjadi wadah bagi pelaku industri untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan menghadapi persaingan internasional yang semakin ketat.
"Kami menyelenggarakan Furniture Bootcamp Batch ini sudah kedua kalinya. Yang pertama di Jepara dengan fokus perkayuan, sedangkan di Cirebon kami memfokuskan pada rotan dan juga bambu," ujar Bambang.
BACA JUGA:Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Akui Tak Sabar Bela Timnas Indonesia, Bakal Tampil di Piala AFF 2026?
Menurutnya, industri furnitur Indonesia saat ini menghadapi persaingan kuat dari sejumlah negara seperti China, Vietnam, dan lainnya. Padahal Indonesia memiliki keunggulan berupa kekayaan bahan baku rotan, kayu, dan bambu yang tidak dimiliki banyak negara.
Karena itu, salah satu materi utama dalam bootcamp kali ini adalah pengembangan desain dan inovasi produk. HIMKI menghadirkan sejumlah desainer Indonesia yang telah meraih prestasi di berbagai ajang desain internasional untuk berbagi pengalaman kepada peserta.
"Desain development dan inovasi desain menjadi faktor penting agar produk furnitur Indonesia memiliki daya saing lebih tinggi di pasar dunia," katanya.
Katanya, Bootcamp Batch diikuti oleh 40 perusahaan furnitur dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui kegiatan ini, HIMKI berharap pelaku industri tidak hanya memiliki kemampuan produksi yang kuat, tetapi juga unggul dalam inovasi desain sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi dan ekspor nasional.
"Kita punya keunggulan pada material excellence dan craftsmanship. Kekuatan itu harus didukung dengan kemampuan mendesain agar kita mampu memenangkan persaingan global dan meningkatkan kapasitas ekspor Indonesia," tambah Bambang.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina HIMKI sekaligus mantan Ketua Umum HIMKI, Ir. Soenoto, menegaskan Indonesia memiliki posisi strategis sebagai pemilik sekitar 85 hingga 90 persen sumber daya rotan dunia. Menurutnya, dominasi tersebut seharusnya menjadi modal untuk menguasai pasar furnitur rotan dunia, bukan sekadar menjadi pemasok bahan baku.
"Yang harus diekspor adalah produk jadinya, bukan bahan bakunya. Ekspor furnitur akan menciptakan nilai tambah, menyerap lebih banyak tenaga kerja, meningkatkan devisa, sekaligus membangun karakter industri nasional yang memiliki nilai," ujarnya.
Ia menilai ekspor bahan baku hanya menjadi jalan pintas yang tidak memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian nasional karena minim nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

