Baru Tiga TPS3R yang Hidup, DPRD Minta Sampah Jadi Prioritas 2027
TERUS DISOAL. Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon, Anton Maulana ST MM menegaskan pemeritah masih memiliki PR terhadap pengelolaan TPS3R.-Samsul Huda-radarcirebon
CIREBON, RADARCIREBON.COM - Sampah tidak pernah menunggu anggaran siap. Setiap hari datang. Dari rumah, pasar hingga warung yang numpuk disetiap TPS, baik resmi maupun liar.
Padahal, fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sudah dibangun. Sayangnya, keberadaan fasilitas tersebut belum maksimal. Ini menunjukkan masih ada PR besar.
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon, Anton Maulana ST MM mengungkapkan, dari 16 TPS3R yang telah dibangun, baru tiga lokasi yang aktif beroprasi.
Artinya, sebagian besar fasilitas pengolahan Sampah belum memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
BACA JUGA:Piala AFF Lewat, FIFA ASEAN Cup 2026 Jadi Penentu, Nasib John Herdman Bisa Dipecat Jika Gagal
"Jangan sampai fasilitas sudah dibangun, tetapi tidak berjalan. Harus ada kelompok pengelola yang aktif dan berkelanjutan," ujar Anton, Selasa (11/8/2026).
Politikus Golkar itu juga mendorong optimalisasi Program Kampung Bersih di 40 desa. Setiap wilayah dinilai perlu memiliki pola penanganan berbeda, mulai pemilahan sampah organik, anorganik hingga pengelolaan residu.
"Di sisi lain, penambahan armada pengangkut sampah juga didorong masuk dalam prioritas anggaran 2027," tuturnya.
Sebab, sampah yang sudah dikumpulkan tetap membutuhkan kendaraan untuk diangkut. Tanpa armada yang cukup, persoalan hanya berpindah tempat: dari rumah ke TPS, lalu menumpuk karena tidak segera terangkut.
BACA JUGA:6.426 Botol Miras Dimusnahkan di Majalengka, Ada Ciu dan Arak Hasil Razia 9 Hari
Karena itu, penguatan persampahan dinilai harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga, pengolahan di TPS3R, penguatan Kampung Bersih, sampai pengangkutan dan penanganan residu.
"Kami berharap pembahasan KUA-PPAS 2027 dapat menghasilkan kebijakan anggaran yang tidak hanya terlihat besar di atas kertas, tetapi benar-benar terasa di lapangan," katanya.
Sebab, ukuran keberhasilan pengelolaan sampah bukan berapa banyak fasilitas yang dibangun. "Tapi berapa banyak sampah yang berhasil dikurangi, diolah, dan tidak lagi berserakan di lingkungan warga," pungkasnya. (sam)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


