Saya Tidak Lulus SMA (Seri 1)
Azrul Ananda berpose memegang koran Ellinwood Leader.-Dok. Pribadi-
SAYA mengaku terus terang dan blakblakan: Saya tidak pernah lulus SMA.
Saya tidak pernah punya ijazah SMA. Jujur. Seratus persen. Silakan cek ke sekolah di seluruh dunia. Azrul Ananda tidak punya ijazah SMA. Bahkan, seumur hidup ini, saya hanya pernah setahun duduk di bangku SMA.
Begini ceritanya...
***
Waktu SMP di Surabaya dulu, orang tua saya berusaha keras agar saya -- dan adik saya -- untuk melanjutkan ke luar negeri secepatnya. Karena waktu itu pekerjaannya di dunia jurnalistik penuh dengan ancaman, penuh dengan risiko. Abah saya tidak ingin saya seperti dia.
"Abah ini bisa ditangkap kapan saja," ucapnya waktu itu.
Masalahnya waktu itu, keluarga kami belum punya banyak uang. Tidak bisa begitu saja dengan mudah menerbangkan anak ke luar negeri. Pada suatu waktu, dia menunjukkan sebuah iklan di koran. Ada sebuah institusi pendidikan internasional yang menawarkan program pertukaran SMA di Amerika. Saya tinggal mengambil tes dan menjalani interviu. Usia waktu itu 15 tahun, sudah kelas 3 SMP.
Seperti banyak anak SMP lain, saya tidak pernah berpikir apa-apa, tidak punya pandangan ke depan mau seperti apa. Ya sudah. Disuruh ikut tes, ya saya ikut saja. Tes Bahasa Inggris tulis dan wawancara, serta yang lain.
Tidak ada belajar khusus, tidak ada ambisi khusus.
Apalagi waktu itu saya di kelas ranking 30. Tapi saya tahu itu bukan karena saya tidak mampu meraih nilai baik. Waktu itu, saya banyak tidak peduli dengan sekolah. Kalau merasa gurunya tidak asyik, ya saya sama sekali tidak nurut. Wkwkwk...
Bahkan, ada guru yang pernah menaruh tulisan "Madesu" di kertas ujian saya. Maksudnya: "Masa depan suram". Anak-anak generasi kami dulu memang harus tangguh! Wkwkwk...
Kembali ke tes pertukaran pelajar. Ternyata saya diterima!
Saya akan berangkat pertukaran SMA di Amerika setelah lulus SMP. Tepatnya bulan Juli 1993. Hanya beberapa hari setelah saya ulang tahun ke-16. Jangan tanya nilai SMP saya berapa. Karena begitu diterima, saya memutuskan cuek bebek dengan pelajaran di sekolah!
Waktu itu, ada 80 anak Indonesia yang berangkat ke Amerika. Satu pesawat naik Garuda dari Jakarta ke Los Angeles. Transit di Denpasar, Biak, dan Honolulu. Belum ada layar TV di kursi pesawat. Jadi rombongan kami kumpul di belakang bikin keramaian sendiri. Ada yang main gitar, dan main-main sesukanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

