Adapun satu hal yang menjadi kendala menurut Farhan, peluncuran saham perdana harus dilakukan pada waktu yang tepat.
Untuk di tahun sekarang ini, sebutnya, pihak investor atau calon pembeli saham masih ragu-ragu untuk melakukan pembelian saham Persib.
Karena menurut Farhan, iklim sepak bola di Indonesia masih belum bisa menjanjikan untuk investasi di masa yang akan datang.
BACA JUGA:Super Air Jet Maskapai Paling Sibuk di Bandara Kertajati, Rute Ini yang Dioperasikan
"Nanti calon pembeli akan bilang 'sepakbolana aya eweuh' (sepak bolanya ada nggak)," ucap M Farhan.
Namun, kondisi tersebut tidak dialami Bali United ketika memutuskan untuk menjual saham ke publik, peluncuran saham perdana malah mendatangkan untung besar.
Dijelaskan Farhan, Bali United melakukan penjualan saham perdana atau IPO, dilakukan pada momen yang tepat.
"Saat dijual ke publik, sepak bola Indonesia sedang euforia," kata M Farhan.
BACA JUGA:59 Calon Prajutit TNI AL Asal Cirebon Jalani Sidang Pantukhir di Jakarta, Danlanal Turut Memantau
Bali United kala itu, menjual saham ke publik usai menjuarai Liga Indonesia musim 2018/2019.
"Jadi waktunya sangat pas, masyarakat langsung pada beli," jelasnya.
Sementara itu, Teddy Tjahyono salah seorang jajaran Direksi PT PBB mengatakan, penjualan saham Persib ke publik merupakan rencana pihak perusahaan.
Namun, Teddy menerangkan, keinginan direksi untuk mengubah Persib menjadi PT terbuka merupakan rencana jangka panjang.
BACA JUGA:Lewat Dana Desa, Pembangunan Desa Karangasem Karangwareng Bergeliat, Petani Dapat Manfaat
"Mungkin ke depannya iya. Kami masih jajaki, tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat," kata Teddy beberapa waktu lalu.*