Sementara itu, muncul rumor pemekaran Cirebon Timur gagal terlaksana karena alasan luas wilayah.
Rumor kegagalan pemekaran Cirebon Timur ini, membuat FCTM geram. Mereka menuding ada 2 pimpinan DPRD Kabupaten Cirebon yang bermanuver.
Dikatakan oleh Adang Juhandi selaku Dewan Pakar FCTM, bahwa luas wilayah untuk calon daerah otonom baru atau CDOB bukan menjadi parameter.
Menurutnya, ada yang perlu diluruskan terkait dengan luas wilayah Cirebon Timur.
BACA JUGA:Tempat Wisata Gratis di Kota Cirebon Cocok untuk Keluarga, Aman untuk Anak-anak
Bahwa, luas wilayah 925 kilometer persegi itu ada dalam RPP yang belum definitif menjadi PP.
“Jadi RPP yang belum disahkan belum bisa menjadi dasar hukum," kata Adang, kemarin.
Adang menduga, isu pemekaran Cirebon Timur gagal karena luas wilayah dimunculkan ke publik sebagai manuver politik.
Dia curiga ada 2 pimpinan DPRD Kabupaten Cirebon yang memainkan isu tersebut.
BACA JUGA:Filipina vs Indonesia, Shin Tae-yong Justru Bocorkan Kekurangan Garuda
“Kedua politisi itulah (dua pimpinan DPRD Kabupaten Cirebon) yang sedang melakukan perselingkuhan politik dagang sapi. Artinya, benang merah CDOB itu ada di dua orang itu," kata Adang.
Ia menyadari bahwa CDOB Cirebon Timur ini cukup seksi menjelang pemilu. Bahkan pro kontra itu terjadi jauh sebelum tahapan pemilu berjalan.
Disebutnya, sejak dulu semua satu frame bahwa Cirebon Timur layak dan sangat bisa untuk jadi CDOB. Tapi kini opini itu berubah menjelang pemilu.
"Tiba-tiba dibuat isu tidak bisa mekar atau mandiri karena alasan luas wilayah tidak memenuhi syarat pembentukan sebuah daerah untuk menjadi CDOB," terangnya.
BACA JUGA:Gila, Total Kerugian Akibat Penipuan Tiket Konser Coldplay Capai Rp 5,1 Miliar
Dengan munculnya isu tersebut, sambung Adang, dua pimpinan DPRD itu diduga ingin melakukan transaksi, memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi.