Yang terpenting, kata Ariyanto, Cirebon harus mempersiapkan diri dengan baik. Terutama sarana prasana agar Cirebon jadi pilihan wisata yang mampu menyaingi Yogyakarta.
"Tinggal bagaimana marketnya, dan dukungan masyarakat sadar terhadap wisata,” ujarnya.
“Misal, tingkat kebersihannya, ramah, santun dan care terhadap siapapun," imbuh Ariyanto.
BACA JUGA:Pecinta Kuliner Jepang Kumpul, Sedang Ada Promo di Aston Cirebon
BACA JUGA:Ternak Ayam di Argasunya Mati, Diduga Saluran Air Tercemar Minyak Goreng
Lebih jauh, Ariyanto berharap agenda study tour tetap bisa terbuka. Berjalan sebagaimana mestinya.
Tidak ada batasan. Namun dengan catatan. Sekolah tidak boleh memaksa siswanya mengikuti study tour.
"Kami siap mengikuti regulasi yang ada. Mulai dari kendaraan dan driver yang sehat. Apapun itu, seketat regulasinya kami ikuti," terangnya.
"Kami juga sering menyampaikan terhadap pihak sekolah agar tidak memaksa siswanya yang tidak ikut," tegasnya.
Adapun kendaraan yang digunakan, kata Ariyanto, di Ciayumajakuning semua kendaraan bus dalam kondisi sehat. Bahkan terbaru.
"Mayoritas baru. Paling lama usia 5-10 tahun. Tidak lebih dari itu," ucapnya.
Ariyanto menjelaskan, sebetulnya banyak manfaat dalam agenda study tour, salah satunya mengenal dunia luar.
Ada interaksi dengan dunia luar. Pengetahuan sejarah dan budaya, yang dapat dilihat langsung.
"Jangan sampai seperti katak dalam tempurung. Kasian mereka yang tidak mengenal sejarah, diluar sana. Studi tour itu merupakan momen atau kesempatan dengan biaya murah," bebernya.
Tinggal bagaimana sekolah, tidak memaksakan mereka yang enggan ikut lantaran terbentur biaya.
"Bagi mereka yang tidak mampu, sebetulnya kami itu ada slot dua kursi. Free. Memberikan kesempatan. Tapi, kalau lebih dari itu, maka formulasi lainnya adalah subsidi silang dari pihak sekolah," ucapnya.