BACA JUGA:Apresiasi Nasabah Loyal, BRI Serahkan Hadiah BRImo FSTVL 2024 kepada Para Pemenang
BACA JUGA:Kolaborasi Telkom Witel Priangan Timur dan UGJ Cirebon
Nurpatmawati menambahkan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh puskesmas agar siaga dan segera melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak.
"Setiap puskesmas yang wilayah kerjanya ditemukan satu kasus DBD saja, wajib segera berkoordinasi dengan kecamatan dan desa untuk menggelar PSN bersama," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Cirebon, Hj Neneng Hasanah, mengatakan, meningkatnya kasus DBD karena faktor cuaca.
"Lonjakan kasus pada Maret dipicu oleh perubahan cuaca yang ekstrem, serta masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan DBD," tutur H Neneng.
Dijelaskan Neneng, perubahaan cuaca dari musim hujan ke musim kemarau, seringkali menciptakan tempat-tempat genangan air yang menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.
BACA JUGA:Cek Rekening! Kemendikdasmen Siap Salurkan Bantuan untuk Guru Honorer Non-ASN
BACA JUGA:Penjualan Tiket Tahap II Laga Timnas Indonesia vs China Dibuka Awal Pekan Depan, Siap-siap ya!
Inilah yang kemudian menjadi faktor utama meningkatnya kasus DBD, terutama yang terjadi pada bulan Maret 2025 lalu.
"Siklus tahunan DBD memang cenderung meningkat saat musim pancaroba. Dalam periode ini, suhu dan kelembaban udara menjadi ideal bagi perkembangan jentik nyamuk," tutur Neneng.
Dinas Kesehatan pun juga telah melakukan berbagai upaya penanggulangan, mulai dari penyuluhan ke sekolah dan masyarakat, pembagian bubuk abate, hingga fogging yang dilakukan di wilayah yang ditemukan kasus positif DBD.
"Tapi fogging bukanlah solusi utama untuk memberantas DBD. Karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa," tegas Neneng.
Cara paling efektif yaitu dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, khususnya lewat gerakan 3M plus, yakni menguras, menutup, dan mengubur barang, serta menambahkan tindakan lain seperti menabur larvasida dan menggunakan kelambu saat tidur. (*)