Menurut Agus, sekolah rakyat tersebut masih terdapat beberapa catatan diantaranya, asrama perempuan dan laki-laki terlalu berdekatan.
BACA JUGA:Baraja Coffee Amphitheater: Meracik Rasa dan Budaya dalam Secangkir Kopi
BACA JUGA:Berkolaborasi dengan Telkom, Sekolah Jalin Kerjasama Digitalisasi
"Memang masih terlalu dekat dan tidak ada batas, termasuk dengan pengaturan lainnya, termasuk dengan jumlah kamar mandi yang terbatas, hanya tiga untuk laki-laki dan tiga untuk perempuan, sementara jumlah siswanya banyak," ucapnya.
Agus mengatakan, untuk makan para siswa sendiri sudah disiapkan sementara disediakan oleh Dinas Sosial Kota Cirebon.
"Sudah disiapkan kalau makan, untuk dapur sendiri sudah siap untuk fasilitasnya," katanya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Khaerunisa mengatakan, untuk sementara akan disosialisasikan terlebih dahulu pengenalan sekolah.
BACA JUGA:Telkom Percepat Transformasi Pendidikan Digital lewat Program IDL di Garut
BACA JUGA:Geng Motor Serang Polisi di Majalengka, Korban Alami Luka Sabetan Senjata Tajam
"Nanti sore juga ada kegiatan keagamaan, tenaga pengajar sendiri ada 13 orang, belum termasuk ada guru tata usaha, guru PAI, juru masak, security dan juga cleaning service," katanya.
Untuk kurikulum sendiri, Khaerunisa menjelaskan, menggunakan kurikulum Multi Entry Multi Exit (MEME) yang disesuaikan dengan siswanya masing-masing.
"Nantinya akan ada sesi diagnostik dan lainnya, tapi sembari berjalan juga kita lakukan pembelajaran, nantinya akan ada pemberian materi juga," jelasnya.