"Saya memang memiliki keturunan Indonesia. Namun, kakek dan nenek saya tidak lahir di sana (Indonesia). Sehingga sudah sedikit lebih sulit untuk melakukan proses (nasionalisasi)," ujar Tommy dalam wawancara tersebut.
Pasalnya, menurut aturan FIFA, seorang pemain hanya dapat memperkuat tim nasional suatu negara jika ia memiliki garis keturunan langsung dari orang tua atau kakek-nenek yang lahir di negara tersebut.
Dalam kasus Tommy, meski memiliki darah Indonesia, kakek dan neneknya tidak lahir di Tanah Air, sehingga proses naturalisasinya menemui jalan buntu.
"Dengan demikian, itulah mengapa lebih masuk akal untuk memilih Timnas Curacao, misalnya. Jadi, saya sedikit mengecewakan orang-orang Indonesia," tambahnya.
BACA JUGA:Bongkar Rahasia Cara Cepat Klaim Saldo DANA Kaget! Klaim Sekarang Sebelum Kehabisan!
Pernyataan ini tentu saja menjadi pukulan bagi penggemar sepak bola nasional.
Pasalnya, nama Tommy sebelumnya masuk dalam daftar pemain yang diharapkan bisa menambah kekuatan lini belakang Indonesia yang selama ini kerap menjadi titik lemah.
Apalagi, Tommy merupakan pemain yang pernah memperkuat Timnas Belanda U-17 dan U-18, menunjukkan bahwa kualitasnya memang tidak diragukan lagi.
Meski demikian, keputusan Tommy untuk mempertimbangkan bermain untuk Timnas Curacao bukan tanpa alasan.
BACA JUGA:Pacar Hokky Caraka Dilecehkan, 5 Pemilik Akun Instagram Ini Langsung Disomasi
Curacao merupakan wilayah bekas koloni Belanda yang kini menjadi negara otonom di Karibia.
Banyak pemain keturunan Belanda yang memilih membela Timnas Curacao karena memiliki jalur keturunan yang lebih jelas dan tidak membutuhkan proses naturalisasi yang rumit.
Langkah Tommy juga mencerminkan realita pahit bagi Indonesia dalam memburu pemain keturunan.
Proses naturalisasi tidak hanya soal keinginan pemain, tetapi juga menyangkut aspek hukum, administratif, dan regulasi internasional yang ketat.
BACA JUGA:Ditahan Imbang 0-0 oleh Malaysia, Timnas Indonesia Lolos Semifinal Piala AFF U-23
Banyak pemain yang memiliki darah Indonesia namun tidak memenuhi syarat FIFA, dan pada akhirnya tidak bisa memperkuat Garuda meskipun memiliki semangat nasionalisme yang tinggi.