Pengeboran Minyak Pertama di Indonesia Terjadi di Majalengka, Ini Lokasinya

Kamis 24-07-2025,13:32 WIB
Reporter : Tatang Rusmanta
Editor : Yuda Sanjaya

Mengetahui fakta tersebut, pada tahun 1882 Zijker bertolak ke Belanda, untuk mencari pendanaan guna melakukan eksplorasi dan pengeboran lebih lanjut. Kemudian baru di tahun 1883, ia kembali ke tanah air dan mengurus perizinan.

Sultan wilayah yang memimpin kala itu yakni Sultan Musa kemudian memberikan konsensi lahan sebidang 3,5 kilometer persegi atau sekitar 350 hektare. 

Tidak berlangsung lancar, pengeboran di sumur pertama rupanya tidak mengeluarkan hasil minyak yang diharapkan.

Dengan masih mengeksplor di sekitar wilayah lahan konsensi, pengeboran akhirnya dilakukan sisi lebih timur kawasan eksplorasi. 

Pada tahun 1884, dua bulan pengeboran di sumur pertama hanya berhasil mengeluarkan minyak sebanyak 200 liter.

Berpindah ke sejumlah lokasi yang masih dalam lingkup konsensi, baru di tahun 1885 pengeboran di salah satu titik lokasi yang saat ini dikenal sebagai Desa Telaga Said akhirnya membuahkan hasil.

Saat dibor pada kedalaman 22 meter, minyak yang berhasil diekstraksi sudah mencapai 1.710 liter dalam waktu dua hari. Semakin dalam bor menggali, semakin meningkat pula hasil minyak yang terekstraksi.

Saat mata bor sampai di kedalaman 121 meter, muncul semburan berbagai material berupa gas, minyak, dan material lainnya. Sejak saat itulah sumur yang dimaksud dikenal dengan nama Telaga Tunggal 1.

Disebutkan bahwa pada masa kejayaannya, Telaga Tunggal 1 mampu mengeluarkan minyak mentah mencapai 180 barel per hari. 

Sampai akhirnya Zijker yang berperan besar dalam penemuan ini meninggal pada tahun 1890 akibat penyakit tropis. 

Sejak saat itu, konsensi tambang Telaga Tunggal 1 dialihkan ke NV Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij (KNPM).

Sampai kemudian, sumur Telaga Tunggal 1 sebagai eksplorasi tambang minyak bumi yang pertama kali berhasil di Indonesia, dan termasuk tertua di dunia itu mulai mengering di tahun 1900-an. 

Sumur tersebut kemudian ditinggalkan pada tahun 1934 setelah jutaan barel minyak bumi sudah diekstraski dari tanah Langkat.

Kategori :