"Saya senang sekali mendapat bantuan 20 kilo beras. Sangat membantu untuk kebutuhan makan di rumah,” ucap Marini, salah satu penerima bantuan.
Pendapat senada, diungkap warga lainnya bernama Dasmet. Dirinya merasa bersyukur bisa memperoleh bantuan pangan berupa beras.
BACA JUGA:Kebijakan Larangan Study Tour Jadi Angin Segar Pariwisata Cirebon
"Alhamdulillah, ini sangat membantu. Apalagi harga beras sedang naik, sementara penghasilan belum tentu cukup," kata Dasmet.
Kepala Desa Sumber Kulon berharap ke depannya, instansi terkait seperti Dinas Sosial maupun Kementerian Sosial lebih aktif melibatkan pemerintah desa dalam proses pendataan KPM.
Menurutnya, keterlibatan pemerintah desa sangat penting agar data yang digunakan lebih akurat dan mencerminkan kondisi terkini.
"Data itu bersifat dinamis. Ada warga yang meninggal, pindah, atau kondisi ekonominya sudah membaik. Jadi sebelum bantuan disalurkan, kami berharap pemerintah pusat maupun provinsi memastikan pelibatan desa dalam pendataan,” tegas Kibagus.
BACA JUGA:Suasana SMPN 1 Dukupuntang Mendadak Berubah, Oh Ternyata...
Ia menambahkan bahwa pendataan yang tidak akurat berisiko menimbulkan kesalahan sasaran, yang pada akhirnya bisa menurunkan kepercayaan publik terhadap program bantuan.
Penyaluran bantuan beras ini merupakan bagian dari program nasional Bapanas dalam rangka menjaga ketahanan pangan dan meringankan beban ekonomi masyarakat kurang mampu di tengah ketidakpastian ekonomi pascapandemi serta gejolak harga bahan pokok.
Secara lokal, program bansos pangan ini menjadi refleksi pentingnya koordinasi lintas sektor antara pemerintah pusat, provinsi, hingga desa.
Validitas data menjadi kunci agar setiap bantuan tepat sasaran dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
Program ini direncanakan terus berlanjut secara bertahap di berbagai wilayah, dengan harapan dapat berkontribusi nyata dalam pengendalian inflasi, stabilitas harga beras, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah.