Mereka memproyeksikan kisaran harga antara $3.650 hingga $3.950, tergantung pada bagaimana dinamika pasar dan kebijakan moneter berkembang.
Kuatnya permintaan dari bank sentral serta tingginya aliran dana ke ETF menjadi alasan utama di balik revisi prediksi ini.
Namun, mereka juga memberi catatan bahwa jika pertumbuhan ekonomi membaik karena berkurangnya ketidakpastian kebijakan, maka harga kemungkinan akan kembali turun dan stabil di sekitar $3.550 per ons.
Melihat tren ini, para investor kini disarankan untuk mulai memperhatikan portofolio logam mulia mereka.
Emas, dengan karakteristiknya yang tahan banting terhadap inflasi dan fluktuasi nilai mata uang, kembali menunjukkan kekuatannya sebagai lindung nilai (hedging) yang andal.
Di saat saham dan aset kripto bergerak liar, emas dan perak justru menjadi pilihan aman yang semakin dilirik.
Meskipun harga emas saat ini masih berada di bawah level $2.500, sinyal kuat dari dua lembaga keuangan besar ini cukup untuk membuat pasar berspekulasi bahwa kenaikan lebih lanjut hanyalah soal waktu.
Terlebih, dengan naiknya harga emas batangan lokal seperti Antam, Galeri24, dan UBS di Pegadaian, tren global ini mulai terasa dampaknya di pasar domestik Indonesia.
BACA JUGA:Selamat Anda Mendapatkan Saldo Dana Kaget Sebesar Rp350.000! Cek Link Dana Kaget Terbaru 2025!
Bagi investor kecil maupun besar, kini saatnya merencanakan strategi jangka panjang.
Tidak hanya sekadar membeli emas secara fisik, namun juga mempertimbangkan instrumen seperti ETF emas, reksadana berbasis komoditas, atau bahkan saham perusahaan tambang emas yang akan diuntungkan langsung dari kenaikan harga logam mulia ini.
Satu hal yang pasti, era "emas bersinar" tampaknya akan segera tiba.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah harga emas akan naik, tetapi seberapa cepat dan seberapa tinggi ia akan terbang.