Pasca Ditinggal Ayah, Remaja Ini Putus Sekolah Demi Menghidupi Sang Ibu

Jumat 17-10-2025,20:35 WIB
Reporter : Andre Mahardika
Editor : Moh Junaedi

KUNINGAN, RADARCIREBON.COM - Mengejar cita-cita setinggi langit mungkin terdengar tabu bagi Aep Saepudin (14), yang lebih memilih putus sekolah demi menjadi tulang punggung keluarga.

‎Pasca ditinggal sang ayah untuk selamanya, kehidupan Aep bersama ibunda tercinta, Ita Rosita terus mengalami kesulitan.

‎Selain bertahun-tahun hidup tanpa penerangan, tempat tinggalnya di Desa Walaharcageur, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, terlihat jauh dari kata sehat menyehatkan.

‎Lebih dari itu, kondisi Sang Ibu yang terkendala kelancaran berkomunikasi, membuat Aep dituntut menjadi tulang punggung keluarga.

BACA JUGA:Kisah Pilu Ibu dan Anak Asal Kuningan yang Hidup dalam Keterbatasan

‎"Seperti ini sudah 2 tahun, listrik dicabut karena tidak bayar. Saya kerja serabutan pasang baja ringan kadang dapet 200,” ucapnya kaku.

‎"Untuk makan beli kalau ga ada nyari," imbuhnya.

‎Pasca putus sekolah, Aep justru lebih memilih mencari apa yang bisa dikerjakan ketimbang melanjutkan sekolah.

‎Sayangnya, keterbatasan kemampuan dan usianya yang masih belia, hanya segelintir pihak yang mau mempekerjakan Aep dan memberikannya upah.

‎”Saya putus sekolah kalau ada yang bantu buat sekolah lagi saya ga mau karena saya mau kerja aja bantu orang tua," ucap Aep.

‎Disinggu g mengenai harapan kedepannya, Aep justru mememberikan respon diluar dugaan. Berbeda dengan pernyataan sebelumnya yang terbata bata, Aep dengan tegas bahwa ia menginginkan Pemerintah memberikan bantuan Beras.

BACA JUGA:Warga Japura Kidul Gotong Royong Bantu Mutmainnah, Gadis Sebatang Kara yang Mengalami Sakit Komplikasi

‎"Harapan saya ke pemerintah gatau. Oh ngasih beras,” jawabnya.

‎Sementara itu terpisah, sesepuh desa setempat yang juga tetangga Ita dan Aeo, Roy membenarkan bahwa kondisi kehidupan mereka sudah berlangsung berthaun tahun.

‎"Ya kondisinya parah sekali Pak, apalagi klau hujan, takut ambruk, kan ada orang, khawatir roboh, ada korban, listrik mati, dicabut, ya jangankan untuk bayar listrik, untuk makan pun ga ada,” ungkapnya.‎

‎"Kesehariannya ya kemana kadang kadang, ya Alhamdulillah dari Masyarakat juga banyak simpatisan lah,” imbuhnya.

‎Disinggung mengenai bantuan daripada program pemerintah, Roy menjelaskan pernah ada bantuan berupa beras dan mie instan sekitar enam bulan lalu.

‎”Pernah sih ada bantuan dari Camat Luragung, Baznas, mungkin dari Bupati Kuningan juga pernah kasih beras sama indomie lah, pernah, udah ada enam bulan lah,” ucapnya.

BACA JUGA:Saung Kakek Sebatang Kara Ludes Terbakar, Suryadi Bingung Pulang Kemana

‎"Makan nya dari tetangga, kalau PKH saya rasa belum, pernah sekali bantuan apa udah lama, setahun lebih,” Roy menambakan.

‎Sedangkan untuk upaya tetangga, Roy menjelaskan pihaknya telah tiga kali mencoba pengajuan namun tidak membuahkan hasil.

‎"Saya juga bingung minta bantuan kemana, udah sering pengajuan, tapi mungkin karena anggarannya belum ada, mungkin dipending aja dulu, udah tiga kali ngajuin tapi belum terealisasi,” jelas Roy.

‎Dirinya berharap, adanya bantuan berkelanjutan dari pihak desa, kecamatan hingga kabupaten untuk memperhatikan tetangganya tersebut.

‎”Harapan saya, mudah mudahan kedepannya, baik desa maupun kecamatan dan kabupaten Kuningan, saya minta diberikan fasilitas yang kira kira buat tidur, buat apa,”   pungkasnya. (*)

Kategori :