“Dulu mereka membisu, tidak ada kreativitas. Sekarang senyumnya mulai lebar, semangat belajarnya tumbuh. Karena ekonomi bukan lagi halangan untuk mereka bisa mencapai cita-cita,” tambah Rifki, yang mengajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).
Menurutnya, program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo memang tepat sasaran.
Program ini tidak hanya memberi kesempatan belajar bagi anak-anak miskin, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan harapan baru bagi mereka.
Para guru, kata Rifki, berusaha menggali potensi siswa sekaligus memberikan tantangan agar mereka belajar dengan nyaman dan bersemangat.
Hasilnya pun menggembirakan: kelompok paduan suara SRMA 13 Bekasi sempat tampil di Istana Negara saat upacara HUT ke-80 Republik Indonesia beberapa waktu lalu.
Ia juga mengaku terharu melihat semangat siswa-siswi dari keluarga pemulung yang memiliki cita-cita tinggi. Salah satunya Jumaro, siswa kelas 1E.
“Jumaro ingin menjadi biologis. Dia bercita-cita kuliah di IPB untuk belajar cara membuat lingkungan Bantar Gebang lebih bersih dan wangi. Katanya, ‘Sekarang baunya menyengat sekali, saya ingin sekolah tinggi supaya bisa memperbaikinya,’” tuturnya.
Bagi Rifki, perubahan sikap dan semangat para siswa itu adalah bukti nyata bahwa pendidikan bisa mengubah nasib.
“Saya yakin cita-cita mereka bisa tercapai. Jangan menyerah, semangat terus belajar. Pelan-pelan saja, pasti bisa,” ujarnya penuh haru.
Di akhir, Rifki menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo yang telah menginisiasi program Sekolah Rakyat.
“Terima kasih, Pak Presiden Prabowo. Program ini sangat baik dan tepat sasaran. Bagi mereka yang menganggap ekonomi sebagai penghalang terbesar untuk menggapai cita-cita, Sekolah Rakyat telah membuktikan bahwa pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan,” tutupnya.