Belum cukup yakin, Kholdun kemudian berkonsultasi dengan guru bimbingan konseling. Dari situ motivasi dan tekad makin berlipat.
“Saya ikut tes dan masuk ke UGM jurusan arkeologi. Saat saya S1 di UGM tertarik belajar peninggalan Hindu-Budha di Indonesia," tuturnya.
Pendidikan S1 di Universitas Gadjah Mada (UGM) ditempuh tahun 2017-2022. Kholdun kemudian sempat bekerja selama 2 tahun.
Dia kemudian mencoba mengajukan beasiswa S2 di School of Arts (SOAS) University of London yang ditempuh tahun 2024 - 2025.
BACA JUGA:Popkota Cirebon 2025 Dimulai 6 November, 29 Cabor Dipertandingan
“Beasiswa dari SOAS, spesifik mencari arkeolog Asia Tenggara yang mendalami peninggalan Hindu- Budha. Jalannya saya dari situ. Beasiswanya spesifik," katanya.
Di jenjang S2, Kholdun membahas mengenai arca logam. Penelitiannya membandingkan dengan artefak serupa di India dan China.
“Temuannya, ternyata ada berita yang menyebutkan bahwa orang yang belajar Agama Hindu-Budha ada ke China, India dan sebaliknya," ujar dia.
Penelitian dilakukan Kholdun terhadap arca logam di beberapa museum dunia, di Inggris, Belanda dan sebagainya.
BACA JUGA:Prabowo Ikut Musnahkan Narkoba Bareng Kapolri, Begini Penilaian Pengamat
ARKEOLOGI DAN KEHIDUPAN MANUSIA
Kholdun berpendapat, arkeologi atau sejarah memang seperti tidak berpengaruh langsung pada kehidupan masyarakat. Tapi banyak aspek yang bisa berkaitan dengan arkeologi.
Misalnya cara makan, interaksi sosial, budaya, semua ada hubungan dengan masa lalu.
Karena itu, arkeologi penting karena bisa lebih tahu identitas dan budaya kita sendiri.
BACA JUGA:214 Ton Narkoba Disita, 65 Ribu Tersangka Ditangkap, Menandai Setahun Presiden Prabowo
PANDANGAN TERHADAP ARKEOLOGI DI CIREBON