Tak hanya soal pemain, Bung Harpa juga menyoroti pentingnya struktur staf kepelatihan, khususnya keberadaan asisten pelatih lokal. Menurutnya, peran ini sangat vital untuk membantu Herdman memahami kultur sepak bola Indonesia, karakter pemain, hingga dinamika internal tim nasional.
Namun, ia juga mengkritisi persoalan klasik yang belum terselesaikan: minimnya ruang bagi pelatih lokal. Padahal saat ini Indonesia memiliki lebih dari 40 pelatih berlisensi A Pro, sebuah angka yang seharusnya menjadi kekuatan.
“Talent pool pemain sering dibicarakan, tapi coach pool justru sering dilupakan,” tegas Bung Harpa.
Ia menyayangkan fakta bahwa Liga 1 hingga Liga 2 masih didominasi pelatih asing, sementara pelatih lokal kesulitan mendapatkan jam terbang. Padahal, pengalaman di kompetisi profesional sangat penting untuk mengasah kualitas kepelatihan.
Bung Harpa meyakini, jika pelatih lokal diberi kesempatan dan jam terbang memadai, Timnas Indonesia akan lebih mudah menemukan asisten pelatih yang kompeten dan memahami karakter sepak bola nasional.
Isu Kontroversi dan Tiga Ujian Awal Herdman
John Herdman juga datang dengan bayang-bayang kontroversi masa lalu, termasuk dugaan penggunaan drone untuk memata-matai lawan di Piala Dunia 2022 dan Olimpiade 2024. Menurut Bung Harpa, isu tersebut berada di wilayah abu-abu.
“Kalau berhasil, orang akan memaafkan. Kalau gagal, semua kesalahan akan diungkit,” ujarnya.
Ia mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menghakimi dan lebih fokus menilai kinerja Herdman secara objektif.
Lebih lanjut, Bung Harpa menyebut setidaknya ada tiga momen krusial yang akan menjadi dasar penilaian awal terhadap John Herdman. Pertama, FIFA Matchday Maret untuk melihat sentuhan awal dan pendekatan taktikal.
Kedua, agenda pertengahan tahun yang meliputi laga uji coba dan pembentukan kerangka tim. Ketiga, Piala AFF yang dinilai sangat tricky terkait pilihan komposisi pemain, apakah mengandalkan Timnas U-22 atau tampil all out dengan skuad senior.
“Dari tiga titik ini, barulah kita bisa melihat rapor bayangan Herdman,” pungkasnya.
Ia pun mengajak federasi, pemain, dan publik sepak bola Indonesia untuk bersabar, namun tetap kritis dalam mengawal perjalanan era baru Timnas Indonesia.