Menurut keterangan warga, debit air meningkat drastis secara tiba-tiba pada Jumat, 23 Januari 2026 sore sekitar pukul 16.30 WIB.
Suara gemuruh dari arah hulu sungai terdengar sebelum banjir bandang menerjang kawasan wisata tersebut.
"Awalnya cuma hujan deras, tapi tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Air langsung datang besar dan keruh,” ujar Taufik, warga RT 04 RW 02 Desa Guci, Sabtu 24 Januari 2026.
Puncaknya terjadi pada Sabtu 24 Januari 2026, pukul 02.00 WIB dini hari. Ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar 7 meter membuat jembatan tak mampu menahan hantaman arus bercampur lumpur dan pasir.
"Air naik sangat cepat. Jembatan yang biasa dilewati wisatawan tidak kuat menahan hantaman air yang membawa material lumpur dan pasir,” lanjut Taufik.
Tak hanya memutus akses utama menuju Pancuran 13 dan Pancuran 5, banjir bandang yang terjadi juga menyebabkan kerusakan parah fasilitas wisata.
Pancuran 13 Guci hancur dan tertimbun lumpur, satu unit alat berat beko rusak, sejumlah lapak pedagang hanyut, serta pagar pembatas di sepanjang aliran sungai porak-poranda.
Bukit di Atas Desa Guci Longsor
Bencana juga disertai longsor di bukit atas Desa Guci. Longsor dilaporkan cukup parah dan menambah kepanikan warga.
Sebanyak 700 bibit pohon yang rencananya akan ditanam di lereng Gunung Slamet pada 7 dan 15 Februari 2026 mendatang, ikut hanyut terbawa banjir.
Kini, warga Desa Guci diliputi kecemasan. Mereka khawatir banjir bandang dan longsor susulan kembali terjadi mengingat hujan masih kerap turun di kawasan tersebut.
"Warga takut kalau air besar datang lagi. Tanah di atas juga rawan longsor,” ungkap salah seorang warga di lokasi.