Selain itu, terdapat luka berwarna merah (hemoragi) pada permukaan tubuh. Insang berwarna pucat hingga memutih, sisik mudah terlepas.
Dari hasil pengematan, gejala-gejala tersebut menunjukkan adanya gangguan pada sistem pernapasan, integumen, serta penurunan kondisi fisiologis ikan.
Kepala Bidang (Kabid) Diskatan Kuningan, Deni Rianto menjelaskan, ikan dewa yang mati secara massal itu, merupakan kejadian pertama dalam beberapa 10-15 tahun terakhir.
Dijelaskan Deni, dari hasil pengamatan pihaknya, ikan yang mati dikarenakan terdapat parasit berupa cacing jangkar (Lernaea sp.) di dalam tubuh ikan.
"Setelah kita lakukan pemeriksaan, terdapat parasit di dalam tubuh ikan," ucap Deni ketika dimintai keterangan.
BACA JUGA:Angin Kencang Terjang Kuningan, 17 Titik Pohon Tumbang Ganggu Jalan dan Permukiman Warga
Adapun penyebab munculnya parasit di dalam tubuh ikan, sambungnya, dikarenakan debit air yang masuk ke kolam ikan, dinilainya kurang mencukupi.
"Selain itu, sirkulasi airnya kurang bagus sehingga parasit bisa muncul," tegasnya.
Satu hal penyebab ikan bisa mati, sebut Deni, dikarenakan asupan nutrisi atau pakan ikan yang dinilainya kurang.
"Bisa dilihat ikannya kurus-kurus, kalau ikan kurang pakan pasti cepat terserang penyakit," ungkapnya.
Deni menambahkan, cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini di Kabupaten Kuningan, turut berperan dalam kematian ikan dewa yang mencapai puluhan ekor itu.
BACA JUGA:BPBD Kuningan Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem, Warga Diminta Waspada Pohon Tumbang
BACA JUGA:Sengketa Air Gunung Ciremai: Warga Cikalahang Menuntut Hak, PDAM Paparkan Data Resmi
Jika hujan turun dengan intensitas tinggi terus terjadi, Deni menduga kemungkinan besar ikan yang mati bisa terus terjadi.
"Untuk antisipasi kita melakukan karantina terhadap sisa ikan yang ada, tapi belum bisa menjamin jika cuaca ekstrem tetap terjadi," ucapnya.