Kondisi ini diperparah dengan adanya pasar rakyat serta pedagang kaki lima yang memenuhi bahu jalan.
BACA JUGA:Dubes Arab Saudi Pastikan Haji 2026 Berjalan Normal, Ini Penjelasannya
BACA JUGA:Janji Normalisasi Irigasi Tak Kunjung Terealisasi, Warga Cibogo Cirebon Geram
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan minat masyarakat untuk berkunjung.
Di dalam area wisata, ratusan pengunjung terlihat memadati lokasi, menikmati suasana sejuk khas kawasan perbukitan.
Daya tarik utama wisata Plangon tidak hanya terletak pada nilai sejarahnya, tetapi juga keberadaan kawanan monyet yang hidup bebas di area tersebut.
Hewan-hewan ini menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan, terutama anak-anak.
Para pengunjung bisa dengan mudah menjumpai monyet-monyet tersebut, mulai dari area parkir hingga tangga menuju puncak bukit.
Di atas bukit, terdapat makam Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan yang sering menjadi tujuan ziarah.
Tak sedikit wisatawan yang sengaja membeli kacang atau pisang dari pedagang sekitar untuk berinteraksi langsung dengan monyet.
Aktivitas ini menjadi pengalaman unik yang sulit ditemukan di tempat lain.
Firman (22), petugas kebersihan setempat, mengungkapkan bahwa lonjakan pengunjung di wisata Plangon memang rutin terjadi setiap musim Lebaran.
Ia menyebut, puncak kunjungan biasanya berlangsung hingga tujuh hari setelah hari raya.
“Di sini gratis, siapa saja boleh masuk. Yang penting tetap menjaga kebersihan,” ujarnya.
Firman menambahkan, setelah periode Lebaran berakhir, jumlah pengunjung biasanya mulai menurun.
Meski begitu, kawasan Plangon tetap ramai pada momen tertentu seperti malam Jumat Kliwon, bulan Maulid, dan Rajab.